Rantau (ANTARA) - Ketua DPRD Kabupaten Tapin Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) Achmad Riduan Syah menyesalkan dan menilai kegiatan perpisahan siswa SMK Negeri 1 Tapin Selatan yang mengundang disjoki, serta berjoget secara berlebihan di lingkungan sekolah telah mencoreng nilai pendidikan sehingga memunculkan hal negatif.
Menurut Riduan, acara perpisahan yang viral melalui media sosial itu menunjukkan kurang pengawasan dari pihak sekolah terhadap kegiatan yang semestinya menjadi momen edukatif dan membangun karakter.
Baca juga: DPRD Kalsel kecam perpisahan sekolah di Tapin undang "DJ"
"Saya melihat langsung videonya. Kegiatan seperti itu sangat disayangkan karena menampilkan sisi negatif yang tidak pantas di lingkungan pendidikan," ujar Riduan di Rantau, Kabupaten Tapin, Rabu.
Riduan mengatakan hiburan saat perayaan kelulusan bukan hal yang dilarang, namun harus tetap mengedepankan nilai budaya, etika, dan norma pendidikan.
"Kalau sudah mengarah ke hiburan DJ dengan joget berlebihan, bisa membentuk pola pikir negatif di kalangan siswa. Ini bukan sekadar soal selera, tapi soal tanggung jawab moral," kata Riduan.
Ketua DPRD Tapin mendesak Dinas Pendidikan Provinsi Kalsel untuk memberikan teguran resmi kepada pihak sekolah dan menyatakan akan meminta Komisi II DPRD Tapin untuk menindaklanjuti insiden tersebut.
Sementara itu, Kepala SMKN 1 Tapin Selatan Edi Suhariyono mengatakan pihak sekolah akan bertanggung jawab terhadap reaksi masyarakat yang muncul usai acara perpisahan itu.
"Jika ada pelanggaran norma sosial atau hukum, kami siap bertanggung jawab. Namun perlu kami klarifikasi, tidak ada alkohol, narkoba, atau pelanggaran hukum lain saat acara perpisahan tersebut," ujarnya.
Edi menjelaskan seluruh kegiatan dilakukan di dalam lingkungan sekolah dengan maksud menghindari tindakan negatif seperti konvoi jalanan atau vandalisme yang biasa terjadi dalam tradisi kelulusan.
Namun, kata dia, bahwa insiden saweran dan euforia berlebihan saat disjoki tampil tidak masuk rencana awal dan terjadi di luar kendali panitia.
"Terkait disjoki awalnya kami menolak. Namun, siswa memohon hingga lima kali kami setuju dengan syarat ketat, seperti pakaian sopan, siang hari, dan tidak anarkis. Jika dilanggar, acara harus dibubarkan," ucap Edi.
Ke depan, Edi menyebutkan pihak sekolah berjanji lebih ketat mengawasi setiap unsur kegiatan agar tidak menimbulkan kontroversi serupa.
