Hulu Sungai Selatan Kalsel (ANTARA) - Wakil Ketua DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) Desy Oktavia Sari mengisi reses dengan kegiatan keterampilan bagi perempuan Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan Kabupaten Tapin.
"Dalam reses 14-21 Januari 2026 saya isi dengan kegiatan antara lain keterampilan berupa pelatihan kecantikan merias wajah bagi perempuan HSS dan Tapin," ujar Desy ketika dikonfirmasi, Rabu.
Politikus perempuan muda itu menerangkan, kegiatan tersebut sebagai upaya peningkatan keterampilan perempuan agar memiliki kemampuan yang dapat mereka kembangkan secara mandiri.
"Pelatihan tersebut tindak lanjut dari aspirasi warga yang disampaikan pada reses sebelumnya. Sejumlah perempuan mengusulkan adanya pelatihan keterampilan praktis yang bisa dimanfaatkan untuk menambah penghasilan keluarga dan membuka peluang usaha di lingkungan masing-masing," ujarnya.
"Srikandi" Partai Amanat Nasional (PAN) itu menyatakan, dia sengaja menggelar pelatihan tersebut dalam rangkaian reses agar kebutuhan/aspirasi warga bisa terespons lebih cepat.
Pasalnya, lanjut wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel IV/Kabupaten Tapin, HSS dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) itu, reses bukan hanya soal bertemu dan berdialog, tetapi juga bagaimana menghadirkan manfaat yang bisa langsung masyarakat rasakan.
"Sebab jika menunggu pelaksanaan melalui balai pelatihan formal, prosesnya akan memerlukan waktu yang cukup lama. Karena itu, pada kegiatan ini menggunakan dana pribadi untuk menghadirkan pelatihan sembari tetap menyerap aspirasi masyarakat HSS," katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Desy menghadirkan perias profesional make up artist (MUA) Yuhdi, pemuda daerah asal "Bumi Ruhui Rahayu" Tapin, sebagai instruktur. Peserta pun mendapatkan materi teknik dasar merias wajah hingga praktik langsung yang dapat menjadi bekal awal untuk mengembangkan keterampilan secara profesional.

Selain di "Bumi Rakat Mufakat" HSS, Desy kelahiran "kota bestari" (cantik dan anggun) Rantau (117 km utara Banjarmasin) ibukota Tapin, juga menggelar kegiatan serupa di Bumi Ruhui Rahayu (daerah bertetangga).
Ia berharap, keterampilan yang mereka peroleh dapat menjadi pintu awal kemandirian ekonomi perempuan, sekaligus menjadi dasar perumusan program pemberdayaan yang lebih berkelanjutan ke depan.
