Batulicin (ANTARA) - Sosok Desy Purwasih yang berasal dari Kecamatan Mantewe, Kabupaten Tanah Bumbu, berhasil meraih gelar doktor pertama di desanya usai menuntaskan sidang promosi doktor di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Perempuan kelahiran Desember 1997 ini berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan dewan penguji hingga meraih predikat pujian tertinggi (suma cum laude) dan lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna dengan masa studi 36 bulan (3 tahun).
Baca juga: Menteri AHY lulus ujian doktor dengan predikat Cumlaud
"Alhamdulillah, bisa sampai ke titik ini. Momen yang sangat bermakna bagi saya. Bukan hanya capaian akademik, tapi juga perjalanan yang panjang, sarat akan proses, pengorbanan, doa dan juga pembelajaran hidup," kata Desy saat dihubungi di Yogyakarta, Rabu.
Dalam sidang itu, Desy membawakan disertasi terkait pengembangan model pembelajaran Project Creative Pedagogy (PCP) terintegrasi Etnosains "Sekaten" untuk meningkatkan design thinking skill dan scientific argumentation.
Dengan penelitiannya, Desy Purwasih dapat mempertahankan hasil penelitiannya di hadapan empat guru besar dengan berbagai keahlian bidang keilmuan, serta didampingi dua guru besar lainnya sebagai promotor dan ko promotor.
Menurut Desy, belajar sains tidak melulu di laboratorium, tapi juga bisa melihat dari kehadiran budaya setempat seperti upacara Sekaten, karena kehadiran budaya tidak hanya menjadi bagian untuk pelestarian budaya yang kini sudah mulai pudar, namun juga menjadi bahan untuk menyadarkan peserta didik bahwa sains itu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Mengkombinasikan pembelajaran project dan etnosains dapat membekali calon pendidik supaya lebih aware dengan kelestarian budaya dan kreatif dalam mendesain pembelajaran IPA yang berbasis etnoasins," ujarnya.
Desy selama masa studi doktoralnya juga telah berhasil mempublikasikan 4 artikel di jurnal internasional scopus (2 Q1 dan 2 Q3), menghasilkan 9 artikel di prosiding terindeks scopus, serta menghasilkan lebih dari 10 artikel yang terbit di jurnal nasional bereputasi yang terindeks sinta.
Pencapaian ini, kata Desy tidak lepas juga berkat dukungan suami, orang tua, keluarga, para dosen, beasiswa S3 UNY, dana penelitian Kemendikbud, serta dukungan semua pihak lainnya hingga bisa menuntaskan proses akademik ini.
"Tidak pernah terlintas dari benak keluarga kami bahwa keluarga sederhana yang tumbuh di daerah transmigran Mantewe, jauh dari kata berkecukupan bisa meraih gelar doktor. Namun, alhamdulillah saya bisa sampai titik ini dan jadi awal bagi saya untuk lebih belajar lagi," ujarnya.
Baca juga: ULM cetak lulusan Doktor Ilmu Lingkungan pertama di Kalimantan
Motivasi terbesarnya berasal dari orang tua dan diri sendiri, yakni ingin mengangkat derajat orang tua, membuktikan bahwa perempuan kecil yang lahir dari keluarga sederhana bisa menempuh pendidikan tinggi, agar bisa menginspirasi bahwa setiap dari kita punya hak untuk terus belajar dan belajar.
"Untuk pemuda dari Tanah Bumbu, jangan takut untuk bersekolah sampai jenjang tertinggi, bermimpi setinggi langit, semoga bisa lebih banyak pemuda yang mau belajar dan membawa perubahan untuk pendidikan Indonesia," pesannya.

