Marabahan (ANTARA) - Antropolog Ekologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Dr Nasrullah menilai sampel yang dilakukan pemerintah daerah setempat berkaitan matinya ikan di sungai Barito atau masyarakat setempat menyebutnya fenomena danum bangai tidak representatif lantaran hanya dilakukan di sekitar kota Marabahan.
"Langkah uji sampel ini menurut saya mengalami persoalan metodologis sebab bukanlah sampel yang refresentatif karena tidak mewakili daerah hulu baik Kecamatan Kuripan dan Kecamatan Bakumpai atau Kecamatan Tabukan," kata dia di Marabahan, Selasa.
Akademisi asli putra daerah Kuripan, Kabupaten Barito Kuala ini mengatakan pengambilan sampel daerah hilir yakni kota Marabahan yang berjarak sekitar 50-60 km dari Kecamatan Kuripan membuat air dari hulu mengalami proses pengenceran (dilotion) karena percampuran air sehingga terjadi pemurnian air secara alami (Self-Purification).
Dengan demikian, sangat berpeluang perbedaan kadar kualitas air pada titik yang berjarak puluhan kilometer.
Menurut Antropolog jebolan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, sangat penting mengetahui penyebab danum bangai karena beberapa alasan.
Pertama, mengetahui titik konsentrasi polutan tertinggi, kedua mendapatkan penyebab secara ilmiah, ketiga mengatasi dampak pada manusia, lingkungan termasuk ikan itu sendiri.
Kemudian menelaah jika ditemukan spesies ikan langka atau justru ikan yang ada bakal mengalami kelangkaan akibat mati.
Diketahui telah terjadi fenomena danum bangai di sepanjang sungai Barito yang berlangsung dari Kecamatan Kuripan hingga kota Marabahan sejak tanggal 22 Januari 2026.
Danum bagai adalah fenomena perubahan kualitas air disebabkan transisi dari musim air ke musim kemarau yang menyebabkan air yang mengandung tanaman yang membusuk, rumput, kayu-kayuan tersedot dari anak sungai dan padang ke sungai Barito.
Fenomena danum bangai yang menyebabkan matinya ikan di sungai Barito adalah peristiwa alami karena terjadi berulang kali dalam jarang beberapa tahun atau puluhan tahun, tetapi menjadi mengkhawatirkan karena ikan yang ditemukan mati atau sekarat dalam radius 50 km.
Ikan yang mati berbagai jenis ukuran dari yang kecil dalam satuan ons hingga puluhan kilogram.
Oleh karena itu, kejadian ini tidak bisa dianggap kejadian alami, atau setidaknya bisa disebut kejadian luar biasa mengingat durasi waktu danum bangai berlangsung hingga 5 hingga 6 hari dan jumlah ikan yang mati berton-ton di sungai Barito.
