Seorang pemerhati kuliner Banjar di Kalimantan Selatan, menilai dua makanan tradisional khas Suku Banjar bisa menjadi ikon kuliner setempat.
Asal saja kedua makanan dengan sistem permentasi tersebut dikembangkan lebih jauh seperti makanan khas Korea Selatan, Kimchi,kata Radius Ardanias Hadariah kepada ANTARA di Banjarmasin, Rabu.
Menurut pengamat yang pernah bersekolah di Amerika Serikat ini, kedua makanan yang bahan bakunya berasal daerah setempat itu bisa lebih dimodifikai lagi, terutama dalam proses pembuatan makanan sebagai teman makan nasi.
"Saya yakin dengan rasanya yang khas dan enak itu, bila lebih dimodifikasi dalam penyajiannya akan banyak disukai, dan bisa menjadi ikon kuliner masakan Banjar,"kata Radius yang juga dikenal sebagai pejabat di lingkungan Pemkot Banjarbaru itu.
Bila nantinya kedua makanan tersebut benar-benar menjadi ikon makanan Kalsel,maka gilirannya akan berkembang perkebunan tanaman Tigaron dan perkebunan pohon Cempedak sebagai dasar pembuatan jaruk tigaron dan mandai.
Dengan berkembangnya perkebunan kedua jenis tamanan ini maka produksinya bisa diatur sesuai permintaan konsumen.
Selain itu tambah lelaki pecinta tanaman ini, perlu ada dewan kuliner asli daerah yang memberi standarisasi dan sertifkasi kepada jenis makanan mandai dan jaruk tigaron.
Keunggulan jenis makanan ini selain rasanya yang khas bisa membangkitkan selera jelas makanan ini terhindar dari bahan kimia berupa pengawet, penyedap, pewarna, perangsang, pemanis dan lainnya.
Makanan ini berdasarkan pengalaman penikmatnya bisa membangkitkan selera makan, selain itu makanan ini jelas tidak ada kandungan gula dan kolestrol asal memasaknya menjauhi dari campuran berbahan yang bisa menimbulkan penyakit gula dan kolestrol.
Berdasarkan catatan,mandai adalah jenis makanan permentasi yang terbuat dari kulit buah cempedak (tiwadak tanaman sejenis nangka).
Sementara jaruk tigaron adalah makanan permentasi yang bahan utamanya adalah bunga dari tanaman tigaron./H005/B
