Banjarmasin (ANTARA) - Keunikan dan nuansa budaya Pasar Wadai Ramadhan (PWR) Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, untuk tahun 2022 ini agak memudar jika dibandingkan dengan keberadaan PWR tahun tahun sebelumnya.
Wartawan Antara Kalsel yang mengunjungi, lokasi PWR, Rabu melaporkan kondisi PWR yang berada di taman Kamboja, Jalan Kamboja Banjarmasin, dan tak terlalu tampak adanya nuansa budaya khas setempat, seperti kios kioas berbentuk rumah Banjar.
Pintu gerbang masuk lokasi atau pintu gerbang hanya bangunan kecil berbentuk menara mesjid dan bertuliskan Pojok Pasar Ramadhan Banjarmasin Tengah, dan kios kiosnya bangunan biasa yang berjejer beratap daun rumbia serta tenda tenda kain putih ,
Padahal berdasarkan keterangan saat PWR diperkenalkan pertengahan tahun 80-an, dinilai unik dan menarik, maka jika siapapun bergambar (berfoto) di lokasi ini sudah bisa dipastikan hampir orang akan tahu kalau itu berada PWR Banjarmasin.
Masalahnya, bangunan pasar PWR berarsitektur khas Banjar, seperti rumah adat Banjar "bubungan tinggi" atau "gajah baliku."
Begitu juga bahan yang digunakan untuk bangunan PWR terbuat dari bahan lokal yang khas seperti atap sirap, atap rumbia, dinding daun nipah, umbul-umbul dengan hiasan daun kelapa (nyiur).
Apalagi di lokasi PWR biasanya diberikan ukiran atau lukisan dengan ornamen budaya Banjar menambah kekentalan suasana budaya yang menceriminkan lokasi tersebut berada di tanah Banjar, kawasan paling selatan pulau terbesar tanah air ini.
Dulu PWR ini berada di lokasi Jalan RE Martadinata beberapa tahun, kemuian sempat berpindah pindah tempat, yang cukup lama di Jalan Sudirman, namun belakangan atau sekarang berada di taman Kamboja.
Seorang pengunjung mengaku masih miliki foto Pasar Wadai Ramadhan yang dulu yang dinilainya sangat eksotis, dan itu kenang-kenangan yang tak terlupakan.
Tujuan awal berdirinya PWR selain untuk menyediakan warga Muslim mencari penganan dan makanan untuk berbuka puasa juga sebagai pelestarian budaya khususnya kuliner suku Banjar, sekaligus sebagai atraksi wisata tahunan yang mengosong keunikan budaya nenek moyang setempat.
Kalau dulu pintu gerbang dibentuk sedemikian rupa dari bahan-bahan lokal dengan ukiran dan lukisan nuansa budaya Banjar.
Walau begitu warga merasa gembira adanya PWR karena selama dua tahun ini ditiadakan lantaran pandemi, sekarang ada sudah cukup mengobati kerinduan warga.
PWR tahun ini tetap rame dikunjungi, untuk mencari lokasi parkir kendaraan saja cukup sulit, karena begitu berjejalnya warga, begitu juga untuk memasuki lokasi PWR harus rela berdesakan, dan sebagian besar pengunjung lokasi tersebut adalah kawula muda.
Di lokasi PWR tahun ini memang ada bagian untuk penganan, bagian untuk makanan, bagian lagi untuk makanan kecil dan kering, ada pula lokasi khusus campur-campur dari barang mainan anak anak, elektronik, serta lokasi aneka jualan dari berbagai daerah tanah air termasuk kerak telor asli betawi.
Mengunjungi lokasi ini cukup mengasyikkan, bisa menyaksikan aneka penganan atau kue Banjar yang beraneka ragam, berbahan tepung beras, ketan, tepioka, dan tepung gandum.
Kue Banjar, memang lebih dominan tepung beras , gula aren, dan pewarna alami, daun pandan dan bahan lokal lainnya. Dijual per tatak (karat) atau pakai talam, umumnya manis manis.
Sementara makanan juga tampak makanan khas Banjar, seperti urap, pucuk gumbili bajarang, pecal, gangan waluh, pakasam, hintalu iwak batanak, gangan humbut, gangan nangka, iwak haruan baubar, papuyu baubar, pais patin, pais pada dan aneka lainnya.
Tetapi jualan kali ini tak sedikit bernuansa Arabic, seperti nasi samin, roti mariyam, nasi mandi, gulai kambing, dan aneka masakan berbahan daging kambing, dan kebanyakan yang jualan juga adalah warga Banjarmasin keturunan Arab. Ternyata makanan nuansa Arab ini cukup diminati dan terlihat pembelinya berjejal walau dinilai agak mahalan.
Nuansa budaya Pasar Wadai Ramadhan agak berkurang
Rabu, 6 April 2022 12:52 WIB
pasar wadai ramadhan
