Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan siap mengembangkan itik atau bebek "alabio" menjadi unggas unggulan nasional yang dikenal masyarakat Indonesia.
"Itik 'alabio' merupakan yang terbaik dari seluruh jenis itik di Indonesia sehingga kami tengah berupaya menjadikannya unggas unggulan nasional," ujar Kepala Dinas Peternakan Provinsi Kalsel Maskamian Andjam, Rabu.
Ia mengatakan hal itu di depan Gubernur Kalsel Rudy Ariffin, Sekdaprov Muchlis Gafuri dan sejumlah kepala dinas lingkup Pemprov Kalsel dalam pertemuan di aula Limousin Balai Inseminasi Buatan Kalsel di Banjarbaru.
Nama itik "alabio" dikenal luas masyarakat Kalsel karena daerah pengembangannya paling banyak berada di salah satu kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Utara, yakni Kecamatan Alabio.
Dijelaskan, itik "alabio" memiliki bentuk fisik yang lebih cantik dibanding jenis itik-itik lain yang dipelihara di Indonesia karena memiliki paruh dan kaki berwarna kuning keemasan.
Selain fisiknya yang cantik, itik yang populasinya di Kalsel mencapai 8.000.000 ekor itu juga menghasilkan telur berkualitas dan banyak dikonsumsi masyarakat Kalsel sebagai lauk menemani makanan khas setempat.
"Warna kuning telurnya kebiru-biruan sehingga banyak yang menyebut blue safir Kalimantan selain banyak masyarakat yang menjadikannya lauk untuk makanan khas seperti nasi kuning atau lontong," katanya.
Dari sisi produksi telur, itik "alabio" juga lebih unggul dibanding itik jenis lain yang dikembangkan peternak provinsi lain karena mampu bertelur hingga 240 butir per tahun.
"Itik jenis lain seperti itik Bali, Mojosari dan Tegal hanya mampu bertelur sebanyak 200 butir per tahun sehingga keunggulan itik 'alabio' selain dari bentuk fisik juga kemampuan bertelur," ujarnya.
Dikatakan, pengembangan itik "alabio" itu sudah merambah provinsi lain di Indonesia di antaranya Medan dan Papua dalam bentuk anak itik umur sehari termasuk penyebarannya ke berbagai daerah di Kalsel.
Ditambahkan, pihaknya berupaya menjaga mutu genetik itik "alabio" sehingga tidak tercampur dengan itik jenis lain sehingga mempengaruhi kualitas jenis itik yang sudah sangat dikenal masyarakat Kalsel itu.
"Kami berupaya menghindari terjadinya perkawinan itik "alabio" sedarah karena akan mempengaruhi kualitas itik melalui pembentukan bibit secara berkualitas," katanya.(zal/B)
