Perempuan Dimarginalkan, Ekonomi Stagnan
Akses perempuan terhadap pendidikan dan pekerjaan yang minim berdampak langsung pada kondisi ekonomi komunitas Kalaidzhi.
Karena perempuan tidak diberikan kesempatan untuk belajar dan bekerja, mereka tidak memiliki kontribusi ekonomi yang berarti dalam masyarakat.
Hal ini memperkuat ketergantungan perempuan terhadap laki-laki dan memperburuk siklus kemiskinan dalam komunitas tersebut.
Menurut laporan European Union Agency for Fundamental Rights (FRA), tingkat putus sekolah dini dalam komunitas Roma di Bulgaria masih tinggi, sekitar 25 persen perempuan Roma yang menyelesaikan pendidikan menengah.
Sedangkan, data dari World Bank juga menunjukkan bahwa kesenjangan gender dalam pendidikan dan pekerjaan memperburuk ketidaksetaraan ekonomi di kelompok minoritas seperti Kalaidzhi.
Ketimpangan ini menunjukkan marginalisasi perempuan tidak hanya berdampak pada hak individu mereka tetapi juga memperlambat perkembangan ekonomi komunitas secara keseluruhan.
Kesetaraan adalah Hak Asasi Manusia
Kesetaraan gender bukan berarti menghapus perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan, tetapi memastikan bahwa hak dan kesempatan kaum perempuan setara dalam berbagai aspek kehidupan.
Tradisi seperti Pasar Pengantin yang memperkuat subordinasi, marginalisasi, dan stereotip terhadap perempuan harus dikritisi agar perempuan memiliki kebebasan untuk menentukan masa depan mereka.
Baca juga: Kaukus Perempuan Politik Indonesia : maknai perjuangan Kartini terus aktualisasikan kesetaraan gender
Perbedaan adalah fitrah dan kesetaraan adalah hak. Keadilan adalah bukan perihal menyamaratakan peran gender secara menyeluruh dan mengesampingkan sikap alamiah seks, namun menempatkan setiap manusia pada struktur yang setara dan menjaganya tetap berada dalam koridor.
Tanpa bermaksud mendiskreditkan nilai turun-temurun yang dijaga kelompok masyarakat, penting untuk memahami bahwa budaya dan tradisi tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan diskriminasi gender.
Perempuan berhak atas pendidikan, pekerjaan, dan kebebasan dalam memilih pasangan hidup mereka, karena ini merupakan hak asasi manusia.
Kisah perjuangan perempuan untuk kesetaraan bukan milik satu feminis atau satu organisasi saja, tetapi bagian dari upaya kolektif semua orang yang peduli pada hak asasi manusia. — Gloria Steinem
Penulis : Mahasiswa Program Magister Kajian Wanita
Universitas Brawijaya
*Dari Berbagai Sumber