Subordinasi dan Keterbatasan Perempuan
Sejak kecil, perempuan Kalaidzhi diajarkan bahwa tujuan utama hidup mereka adalah menikah dan menjadi istri yang patuh, sedangkan pendidikan dan kemandirian ekonomi bukan hal yang dianggap penting pada komunitas ini.
Mayoritas perempuan berhenti sekolah lebih awal dan dipersiapkan untuk kehidupan rumah tangga karena mereka tidak diperbolehkan untuk bekerja di luar rumah atau mendapatkan pendidikan tinggi karena dianggap tidak sesuai dengan peran mereka sebagai perempuan.
Pernikahan dini menjadi sesuatu yang lumrah dalam budaya ini sehingga sejumlah perempuan menikah pada usia 16–20 tahun, tanpa banyak pilihan untuk menentukan pasangan hidup.
Larangan untuk menikah di luar komunitas Kalaidzhi juga semakin mempersempit kebebasan para perempuan, sehingga sistem ini mengukuhkan subordinasi perempuan yang dianggap tidak memiliki hak atas masa depan dan harus tunduk pada keputusan keluarga dan masyarakat.
Standar Kecantikan Tekan Perempuan
Selain keterbatasan untuk menentukan jalan hidup, perempuan pada komunitas ini juga harus memenuhi standar kecantikan yang telah dibentuk masyarakat atau kelompok tersebut.
Kulit putih dan mata terang dianggap sebagai standar kecantikan ideal, sehingga banyak perempuan berusaha memenuhi ekspektasi ini dengan cara apapun.
Saat acara Pasar Pengantin, kaum hawa merias diri secara berlebihan, mengenakan pakaian mewah, dan berusaha menarik perhatian laki-laki yang mencari istri.
Baca juga: Pemkot Banjarbaru raih APE predikat Pratama
Tekanan ini menunjukkan perempuan masih dijebak pada ruang yang penuh tuntutan terhadap penampilan mereka.
Konsep kecantikan pada komunitas Kalaidzhi tidak sekadar menjadi standar sosial, tetapi juga menjadi faktor penentu dalam pernikahan mereka.
Perempuan yang tidak memenuhi standar kecantikan yang telah ditetapkan berisiko mengalami kesulitan mendapatkan pasangan dan dianggap kurang berharga oleh komunitas tersebut.