Rabu, 18 Oktober 2017

Moda Angkutan KA Kalsel Diharapkan Segera Terealisasi

id Kererta Api, Kereta Api Kalimantan, Moda Angkutan Ka, Pemprov Kalsel, (Bappeda) Kalimantan Selatan, Kalsel, Nurul Fajar Desira
Moda Angkutan KA Kalsel Diharapkan Segera Terealisasi
(Antaranews Kalsel/Detik Finance)
Kita bangga mendengar keterangan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Selatan (Kalsel) Nurul Fajar Desira bahwa pembangunan rel kereta apil (KA) di provinsi ini sesegera mungkin,
Banjarmasin (Antaranews  Kalsel) - Ketua Komisi III Bidang Pembangunan dan Infrastruktur DPRD Kalimantan Selatan Supian H.K. mengharapkan moda angkutan massal jenis kereta api di provinsi setempat yang terdiri atas 13 kabupaten/kota segera terealisasi.


"Kita bangga mendengar keterangan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kalimantan Selatan (Kalsel) Nurul Fajar Desira bahwa pembangunan rel kereta apil (KA) di provinsi ini sesegera mungkin," ujarnya di Banjarmasin, Selasa.

Ketua Komisi III DPRD Kalsel yang juga membidangi perhubungan itu, mengharapkan dengan keberadaan moda angkutan massal ke depan dapat memecahkan persoalan tranportasi di provinsi tertua di Kalimantan itu.

"Dengan keberadaan moda angkutan massal berupa KA, minimal menjadi pilihan atau alternatif bagi pengguna jasa angkutan darat/jalan raya di provinsi kita," tutur politikus senior Partai Golkar itu.

Apalagi, katanya, rencananya pembangunan rel KA tidak hanya sebatas di Kalsel, tetapi juga akan menghubungan dengan provinsi lainnya, seperti Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah, bahkan sampai "Negeri Jiran" Sarawak, wilayah timur Malaysia.

Sebelumnya, Kepala Bappeda Kalsel Fajar Desira mengatakan, pemerintah pusat menargetkan pembangunan rel KA di provinsi itu sudah rampung sebelum akhir masa jabatan Presiden Joko Widodo, 2014-2019.

Untuk Kalsel, rencananya pembangunan rel KA itu dari Tabalong atau kabupaten paling utara Kalsel hingga Kota Banjarmasin yang berjarak sekitar 236 kilometer.

Moda angkutan massa jenis KA tersebut tidak hanya untuk membawa penumpang, tetapi juga barang dan hasil tambang sehingga tak lagi melalui jalan raya, yang pada gilirannya dapat memperlancar arus lalu lintas angkutan umum.

"Kini sudah pengukuran untuk menentukan titik pembangunan rel KA tersebut, dan dengan harapan semua pihak bisa berpartisipasi, seperti mengikhlasan lahan yang terkena proyek tersebut melalui sistem ganti rugi," demikian Fajar.

Pada kesempatan terpisah, seorang pengamat sejarah transportasi di Kalsel, Syamsuddin Hasan, menuturkan KA pernah ada pada masa Hindia Belanda dan pendudukan Jepang di provinsi itu.

Keberadaan rel KA pada masa Hindia Belanda dan pendudukan Jepang yang melintasi kawasan Pegunungan Meratus di "Bumi Perjuangan Pangeran Antasari" Kalsel, khusus untuk mengangkut hasil tambang batu bara.

Rel KA pada masa Hindia Belanda dan pendudukan Jepang di Kalsel bukan hanya sampai Pengaron, Kabupaten Banjar, tetapi hingga Desa Mangunang (sekitar 155 kilometer utara Banjarmasin), Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Namun bukti sejarah atas keberadaan KA di "Bumi Lambung Mangkurat" Kalsel kini sudah tiada kecuali tinggal ceritera orang-orang tua yang hidup pada masa Hindia Belandan dan pendudukan Jepang yang kini masih berumur.

Bekas rel KA pada masa Hindia Belanda dan pendudukan Jepang tersebut hingga 1960 masih ada/terlihat di Mangunang Hulu Sungai Tengah dan Pengaron Kabupaten Banjar, demikian Syamsuddin Hasan. 

Editor: Hasan Zainuddin

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga