Batulicin (ANTARA) - Tim Penggerak PKK Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, terus menggencarkan upaya pencegahan stunting melalui peningkatan kualitas keluarga, termasuk edukasi gizi dan promosi konsumsi ikan.
Ketua Tim Penggerak PKK Tanah Bumbu Andi Irmayani di Batulicin, Sabtu, mengatakan pihaknya fokus mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya gizi seimbang, memantau tumbuh kembang anak, serta memastikan ketersediaan layanan kesehatan dan sanitasi memadai.
Baca juga: Wakil Ketua DPRD Tanah Bumbu berkomitmen turut tangani stunting
"Selain edukasi, PKK Tanah Bumbu juga mengikuti lomba masak bahan serba ikan yang digelar Pemprov Kalsel sebagai sarana mendorong kreativitas kuliner sekaligus kampanye gizi," ujarnya.
Pada lomba itu, Tanah Bumbu meraih juara III kategori menu keluarga tingkat provinsi, dengan tantangan mengolah ikan bandeng dan patin menjadi kudapan, menu keluarga, dan menu balita.
"Alhamdulillah, prestasi ini hasil kerja bersama. Menu yang kami sajikan tidak hanya lezat, tapi juga bergizi sesuai standar kesehatan keluarga. Semoga ini menjadi motivasi untuk terus mengedukasi masyarakat pentingnya makan ikan," tutur Irmayani.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut sejalan dengan program nasional dan daerah untuk menekan angka stunting melalui pemenuhan gizi seimbang.
Menurut dia, keberhasilan tersebut membuktikan potensi kuliner lokal Tanah Bumbu yang mampu bersaing di tingkat provinsi, sekaligus menjadi ajakan agar masyarakat meningkatkan konsumsi ikan demi kesehatan keluarga dan anak-anak.
"Ayo makan ikan, sehatkan keluarga, cegah stunting," tegasnya.
Baca juga: Kasus stunting di Tanah Bumbu turun hingga tiga persen lebih
Diketahui, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu mencatat penurunan signifikan angka stunting dari 25,1 persen menjadi 21,6 persen berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024.
Bupati Tanah Bumbu Andi Rudi Latif mengatakan pencapaian ini merupakan hasil dari kolaborasi lintas sektor, termasuk pelibatan masyarakat dan pihak swasta melalui berbagai program strategis.
"Kasus stunting merupakan tantangan serius yang harus dientaskan untuk mewujudkan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas," ujarnya.
Penurunan prevalensi tersebut, kata dia, mencerminkan keberhasilan sejumlah langkah intervensi yang telah dijalankan, salah satunya melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) yang menggandeng Yayasan Rumah Pena BerAksi.
Kendati demikian, angka tersebut masih di atas target nasional sebesar 14 persen, namun sedikit lebih rendah dibanding rata-rata Provinsi Kalimantan Selatan yang tercatat 22,9 persen.
“Pemerintah daerah menargetkan penurunan prevalensi stunting menjadi 20,74 persen pada 2025 dan mencapai 16,91 persen pada 2030 sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2025–2029,” kata Andi Rudi.
Baca juga: Prevalensi stunting di Tanah Bumbu turun jadi 21,6 persen
