Banjarmasin (ANTARA) - "Bilungka hapuk" (bilungka = mentimun, hapuk = empuk/renyah) atau yang hampir serupa dengan timun suri menjadi pelengkap berbuka puasa dari kebanyakan kaum Muslim, terlebih saat Ramadhan, seperti halnya urang Banjar Kalimantan Selatan (Kalsel).
Cara mengonsumsi bilungka hapuk tersebut bisa sebagai campuran sop buah, dan ada pula komoditas itu sendiri dengan campur sirup dan susu atau tergantung kemauan/selera masing-masing.
Urang Banjar Kalsel sejak puluhan tahun lalu menjadikan bilungka hapuk sebagai pelengkap berbuka puasa, seperti halnya di daerah hulu sungai atau "Banua Anam" provinsi yang terdiri atas 13 kabupaten/kota tersebut.
Bahkan konon, sejak berabad-abad silam masyarakat "Bumi Perjuangan Pangeran Antasari" Kalsel sudah mengenal bilungka hapuk, ketimbang timun suri yang berasal dari negeri seberang dan masuk ke "Tanah Banjar" awal tahun 1980-an.
Banua Anam Kalsel meliputi Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Utara (HSU), Balangan dan Kabupaten Tabalong yang berbatasan dengan Kalimantan Timur (Kaltim) serta Kalimantan Tengah (Kalteng).
Penyebutan bilungka hapuk itu khususnya oleh masyarakat "Bumi Murakata" HST, karena stektur daging buah lokal tersebut yang empuk dan renyah.
Namun ada pula warga "Murakata" HST yang menyebut bilungka hapuk tersebut dengan sebutan "bilungka banih" karena bijinya seperti "banih" atau padi (urang Banjar Kalsel menyebut padu itu banih).
Tetapi warga Kabupaten Tapin (masuk Banua Anam Kalsel) ada yang menyebut bilungka hapuk tersebut dengan sebutan bilungka langkang (langkang = bahasa daerah Banjar, yang pengertiannya lekang). Bilungka itu pada umumnya langkang bila sudah masak.
Sementara urang Banjar kuala, seperti Kota Banjarmasin dan Kabupaten Banjar terhadap buah yang sama itu menyebutnya bilungka batu. Entah, kenapa sebutannya bilungka batu? Mungkin karena bentuk yang lonjong hampir menyerupai batu.
Bilungka hapuk dan timun suri serupa tetapi tidak sama. Keserupaannya karena sama-sama dari keluarga tanaman mentimun atau masih dalam satu family tanaman.
Sedangkan ketidaksamaan stektur daging buah bilungka hapuk lebih renyah dan lembut daripada timun suri. Selain itu, tidak bertahan lama sebagaimana timun suri.
Sementara harga kedua jenis komoditas bilungka hapuk dan timun suri di pasaran Banjarmasin dan daerah sekitar saat bulan puasa Ramadhan 1440 Hijrah hampir sama yaitu per kilogram Rp6.000,-.
