Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menyampaikan bahwa komoditas pangan, terutama cabai, bawang dan daging ayam, menyumbangkan andil deflasi bulanan (month-to-month/mtm) terbesar pada Januari 2026.
Secara keseluruhan, perekonomian Indonesia mengalami deflasi secara bulanan pada Januari 2026 sebesar 0,15 persen mtm, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK), yang menurun dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.
"Kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan deflasi sebesar 1,03 persen (mtm) dan memberikan andil deflasi 0,30 persen," ucap Ateng di Jakarta, Senin.
Baca juga: BPS proyeksikan produksi beras triwulan I 2026 capai 10,16 juta ton
Ia menuturkan sejumlah komoditas pangan yang menjadi penyumbang andil deflasi bulanan terbesar, yakni cabai merah (0,16 persen), cabai rawit (0,08 persen), bawang merah (0,07 persen), dan daging ayam ras (0,05 persen).
Ia mengatakan deflasi sejumlah bahan pangan tersebut terkait dengan masa panen komoditas hortikultura yang terjadi pada awal tahun, sehingga pasokannya meningkat.
"Khusus untuk bawang merah, produksi Januari 2026 mengalami peningkatan yang didukung oleh panen raya di hampir seluruh sentra bawang merah, terutama di Brebes dan juga di kawasan dataran tinggi," jelasnya.
Ateng menuturkan komoditas lain yang juga menjadi penyumbang andil deflasi terbesar pada Januari 2026 adalah bensin dan tarif angkutan udara dengan andil masing-masing sebesar 0,03 persen. Deflasi pada komoditas bensin terjadi karena PT Pertamina (Persero) menurunkan harga Pertamax dan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi lainnya per 1 Januari 2026.
Sedangkan, deflasi tarif angkutan udara dipengaruhi oleh stimulus pemerintah selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 berupa diskon tiket pesawat sebesar 13-14 persen untuk jadwal penerbangan pada 22 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026.
Namun, Ateng menyampaikan masih terdapat sejumlah komoditas yang menyumbangkan inflasi bulanan pada Januari 2026, seperti emas perhiasan dengan andil inflasi 0,16 persen, ikan segar 0,06 persen, serta tomat 0,02 persen.
Sementara, menurut komponen, ia mengatakan hanya komponen inti yang mengalami inflasi secara bulanan, sedangkan komponen harga yang diatur pemerintah (administered price) serta komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami deflasi secara bulanan.
"Deflasi yang terjadi pada bulan Januari (2026), yaitu sebesar 0,15 persen (mtm), utamanya didorong oleh deflasi pada komponen bergejolak. Komponen harga bergejolak ini mengalami deflasi 1,96 persen. Komponen ini memberikan andil deflasi terbesar, yaitu 0,33 persen," katanya.
Ateng menuturkan komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada komponen harga bergejolak adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras.
Sedangkan, komponen harga yang diatur oleh pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,32 persen mtm dan memberikan andil deflasi sebesar 0,06 persen, dengan komoditas penyumbang andil deflasi terbesar antara lain bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antarkota.
Berbeda dengan dua komponen lainnya, komponen inti justru mengalami inflasi sebesar 0,37 persen mtm dengan andil inflasi sebesar 0,24 persen.
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada komponen inti yaitu emas perhiasan, sewa rumah, sepeda motor dan juga nasi dengan lauknya," ujar Ateng.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BPS: Bahan pangan beri andil terbesar deflasi bulanan Januari 2026
