Banjarbaru (ANTARA) - Program Doktor (S3) Administrasi Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengembangkan model manajemen kelas berbasis kecerdasan emosi yang diterapkan untuk menghasilkan perubahan signifikan pada kecerdasan emosional dosen dan mahasiswa yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar.
"Model ini dirancang untuk membekali dosen memiliki pengetahuan, keterampilan, dan strategi konkret mengintegrasikan prinsip kecerdasan emosional ke dalam praktik manajemen kelas," kata Marina Dwi Mayangsari, M.Psi, Psikolog, mahasiswa S3 Administrasi Pendidikan ULM yang mengembangkan model ini di Banjarbaru, Senin.
Marina mengatakan model ini juga menghasilkan kontribusi praktis berupa panduan implementatif bagi dosen dalam meningkatkan kualitas dan interaksi pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan mahasiswa di era digital.
Dia menyatakan pengembangan kompetensi kecerdasan emosional dosen sebagai manajer pembelajaran memegang peran penting dalam meningkatkan karakter kesiapan lulusan, khususnya dalam aspek kepemimpinan, kerja sama, adaptasi, serta pengelolaan hubungan interpersonal.
Dosen dengan tingkat kecerdasan emosional yang tinggi cenderung lebih mampu menciptakan suasana kelas yang positif, memenuhi kebutuhan emosional mahasiswa secara tepat, serta mengelola situasi pembelajaran yang menantang dengan tenang dan profesional.
Namun faktanya, selama ini ditemukan persoalan yang menunjukkan meskipun dosen memiliki kemampuan akademik memadai, metode pengajaran yang digunakan sebagian besar masih bersifat konvensional dan belum memperhatikan dimensi emosional mahasiswa secara optimal.
Kondisi ini berdampak pada rendahnya motivasi mahasiswa ketika menghadapi kesulitan dalam pengerjaan tugas akhir dan ketidakjelasan dalam menyusun perencanaan karir di masa depan.
Padahal mahasiswa mengharapkan dosen dapat memberikan dukungan emosional dan akademik yang lebih empatik, mendengarkan keluhan atau kendala belajar dengan penuh perhatian, memberikan penjelasan tambahan ketika materi sulit dipahami, serta menawarkan bimbingan atau solusi yang realistis.
"Di sinilah model manajemen kelas berbasis kecerdasan emosi perlu diterapkan yang diorganisasikan secara terstruktur ke dalam enam komponen utama yaitu input, proses, strategi kelas, output, outcome, dan diseminasi," papar Marina yang juga aktif sebagai dosen Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) ULM kepakaran bidang psikolog pendidikan.

Marina mengungkapkan model manajemen kelas berbasis kecerdasan emosi ini telah terbukti efektif ketika dirinya melakukan penelitian penerapannya di STIE Pancasetia Banjarbaru.
Di bawah pengawasan langsung Koordinator S3 Administrasi Pendidikan ULM Prof Ahmad Suriansyah, M.Pd., Ph.D dan dosen pembimbing Prof Dr Hj Aslamiah MPd Ph.D, model ini terbukti valid, praktis, dan efektif diterapkan dalam konteks pendidikan tinggi.
Dampaknya tidak hanya meningkatkan kecerdasan emosional tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pengembangan karakter mahasiswa sesuai visi misi institusi.
"Perolehan nilai rata-rata sangat baik menunjukkan mahasiswa dapat merasakan perubahan positif setelah diimplementasikan oleh dosen," ungkap Marina.
Dia menyebut hasil ini mengindikasikan model manajemen kelas berbasis kecerdasan emosi mampu menciptakan iklim kelas yang suportif, empati, dan terbuka.
"Ketika dosen mampu menunjukkan empati, meregulasi emosi, dan menjalin komunikasi yang baik dengan mahasiswa, maka mahasiswa merasa aman, nyaman, serta diterima," jelasnya.

