"Diplomasi bilateral dan inisiatif koalisi dengan banyak negara dan organisasi internasional bukti kepemimpinan Indonesia sebagai negara pemilik ekosistem strategis," kata dia saat kuliah umum bertema Forestry Update Course (Fuco) 2025 di Auditorium Universitas Lambung Mangkurat (ULM) di Banjarbaru, Sabtu.
Hanif mengakui dirinya baru saja kembali dari Brazil mengikuti COP30 Leader Summit atau Konferensi Perubahan Iklim PBB di Belem, Brasil pada 10-21 November 2025.
Namun dia menilai hasil di Brazil masih kurang bagus sehingga Indonesia perlu terus melakukan aksi nyata memperkuat implementasi adaptasi iklim.
Hanif mengungkapkan Indonesia menyiapkan segala instrumen dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca sebagaimana komitmen di Paris Agreement (Perjanjian Paris) 2015.
Baca juga: ULM terjunkan 733 mahasiswa untuk Bina Desa

Baca juga: Realisasi program beasiswa Tabalong Smart capai 96,52 persen
Dia menyebut Indonesia telah menggandeng negara seperti Jepang dan Norwegia untuk memberikan contoh di tengah upaya global belum ada kepastian.
Diharapkan aksi nyata itu menyentuh permasalahan global bahwa membangun tidak mesti konsensus tetapi penguatan bilateral justru menuju konsensus yang disepakati bersama.
Salah satu yang didorong Indonesia saat ini, tambah Hanif, mitigasi di sektor kehutanan dengan menjaga keberadaan lahan gambut tetap sehat alias basah.
Diketahui gambut berfungsi menyerap karbon sangat besar dalam kondisi basah, tetapi juga bisa menjadi sumber emisi gas rumah kaca ketika kering atau terbakar
Indonesia memiliki potensi gambut terbesar kedua di dunia dengan luas 13,3 juta hektare.
Dengan gambut seluas tersebut, maka cadangan karbon gambut sekitar 55-57 gigaton atau setara dengan sekitar 30 persen dari total karbon yang tersimpan di lahan gambut seluruh dunia.
Baca juga: S3 Administrasi Pendidikan ULM kembangkan kelas berbasis kecerdasan emosi
"Dengan target pengurangan emisi 1,2 hingga 1,5 gigaton CO2 ekuivalen pada 2035, maka dengan menjaga ekosistem gambut sudah cukup mengatasi ancaman perubahan iklim," tegasnya.
Hanif pun berpesan kepada civitas akademika ULM untuk terus berperan dalam mengatasi ancaman perubahan iklim melalui riset terapan, inovasi monitoring dan pemodelan hidrologi serta pengabdian berbasis kemitraan.
Ketua Forum Pimpinan Lembaga Pendidikan Tinggi Kehutanan (FOReTIKA) Prof Jamaluddin Jompa dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada ULM yang kembali menggagas forum strategis ini.
Menurutnya, isu lingkungan dan kehutanan merupakan dua aspek yang saling berkaitan dan menjadi tanggung jawab semua pihak, khususnya perguruan tinggi.
“Di perguruan tinggi kita harus menjadi pelopor isu lingkungan, mulai dari pengurangan sampah plastik hingga menjawab persoalan global. Permasalahan lingkungan dan kehutanan memiliki hubungan yang sangat dekat,” ujarnya.
Baca juga: PUPR gelar FGD pengembangan IPAL Pekapuran Raya dan Sungai Andai

Sementara Rektor ULM Prof Ahmad Alim Bachri mengatakan kehadiran Menteri Hanif sebagai alumni Fakultas Kehutanan ULM menjadi pelecut semangat mahasiswa untuk bisa mengambil peran dalam aksi nasional memulihkan gambut untuk penyelamat iklim Indonesia.
Dekan Fakultas Kehutanan ULM Kissinger menambahkan, ada 1.800 mahasiswa lintas fakultas di ULM yang hadir mengikuti kuliah umum oleh sang menteri kebanggaan almamater ULM tersebut.
"Ada juga sekitar 300 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang aktif mengikuti secara daring," katanya.
Baca juga: ULM tuan rumah Simposium Kebebasan Sipil 2025
Video:
