Banjarmasin (ANTARA) - "Orong-orong" atau ketupat kosong mewarnai sejumlah pasar tradisional/dadakan di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) dan daerah sekitar menjelang lebaran Idul Fitri 1446 Hijriah/2025 Masehi
Pantauan Antara Kalsel di Banjarmasin, Ahad, melaporkan orong-orong sudah muncul pada pasar tradisional atau pasar dadakan/pasar rakyat sejak H-3 (28/3/2025), namun H-1 sebelum lebaran Idul Fitri 1446 H bertambah penjualnya.
Baca juga: Ibu-ibu di Gaza hadirkan kebahagiaan untuk anak-anak jelang Idul Fitri
Sebagai contoh pada pasar pagi Kelurahan Pemurus Dalam Banjarmasin dan Pasar Ahad Banjarmasin km7 atau Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar banyak penjual orong-orong.
Harga orong-orong sejak muncul hingga H-1 tidak mengalami perubahan atau kenaikan, tetap Rp10.000 per sepuluh buah, baik yang kecil (berasal dari pucuk daun kelapa) maupun ukuran besar (berasal dari daun nifah seperti daun pohon "rumbia"/pohon sagu).
Ketupat kosong kecil yang terbuat dari pucuk daun kelapa untuk membuat ketupat buat suguhan tradisional urang Banjar Kalsel sejak tempo dulu, terutama bagi yang tinggal di Banjar kuala.
Begitu pula ketupat kosong bersar yang terbuat dari daun nifah untuk membikin lontong buat soto khas masakan Banjar, juga sebagai suguhan tamu saat lebaran.
Seorang penjual orong-orong, Aminah (45) mengatakan, dirinya menjual ketupat kosong karena seperti kebiasaan pada lebaran sebelumnya cukup banyak orang membutuhkan barang dagangan tersebut.
"Pada lebaran Idul Fitri kali ini ketupat 'nang payu' (yang laku) tidak seperti tahun lalu. Tapi Alhamdulillah ada untung, walau sedikit," ujar ibu dari tiga anak tersebut tanpa bersedia menyebutkan pendapatan.
Harga penjualan orong-orong kali ini sedikit mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan tahun lalu dari Rp8.000/sepuluh buah menjadi Rp10.000, lanjut perempuan hampir separo baya tersebut yang akrab dengan sapaan Minah.
"Keuntungan menjual orong-orong karena bisa bertahan lama atau masih dijual tahun depan. Tapi bisa saja dipasarkan kapan-kapan," demikian Minah.
Baca juga: Menag ajak Idul Fitri serempak jadi momentum memperkuat kebersamaan

Sementara beberapa mata dagangan juga mengalami kenaikan menjelang lebaran Idul Fitri 1446 H atau H-1 seperti "iwak haruan" ( ikan gabus) untuk ukuran satu kilogram dua ekor Rp65.000/kg, sedangkan sebelumnya Rp60.000.
Contoh komoditas (barang dagangan) lain yang naik, dan bahkan kenaikan hampir mencapai 100 persen yaitu "kastila/ketis" (pepaya) pada H-3 seharga Rp5.000/kg, kini menjadi Rp9.000.
Menurut Dewi, salah seorang pembeli, kebaikan ikan tersebut dan kastila wajar menjelang lebaran karena seperti haruan lawuk suguhan populer urang Banjar.
"Hanya saja harga kastila masak kenaikannya masuk luar biasa, walau buah tersebut sebagai campuran minuman segar pada hari lebaran," demikian Dewi.
Baca juga: Pemerintah tetapkan 1 Syawal 1446 H Senin 31 Maret 2025