Banjar (ANTARA) - Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan melanjutkan program keluarga siaga dukung kesehatan, siap hadapi masa depan atau Sigap, guna mewujudkan generasi emas.
Keluarga Sigap adalah program yang bertujuan untuk melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah melalui perilaku positif. Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Gavi, Unilever Indonesia, dan The Power of Nutrition.
Hal tersebut diucapkan Sekda Banjar HM Hilman di sela kegiatan sosialisasi dan peluncuran Program Sigap, di salah satu hotel di Banjarbaru, Selasa.
“Target program ini adalah orang tua untuk anak-anak bayi di bawah dua tahun dan melalui pendekatan keluarga yang dilakukan dengan pola nutrisi yang bagus, imunisasi lengkap sehingga anak siap menjadi anak-anak yang produktif dan bisa mencapai masa depannya untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045,” ujar Hilman.
Dia menambahkan, Kabupaten Banjar diberikan kesempatan melaksanakan program ini bersama tiga daerah lain di Indonesia. Program sudah berjalan sejak 2023 di 13 puskesmas, 12 kecamatan dan 129 desa dan merambah ke kecamatan lainnya.
"Pemkab Banjar tetap diberikan kesempatan untuk melanjutkan program Keluarga Sigap dan peran semua stakeholder bisa berjalan dengan baik sesuai keinginan,” harapnya.
Sementara Tim Leader Keluarga Sigap Ardy Prastowo menuturkan, program ini menyasar kepada orang tua berfokus pada tiga perilaku yaitu imunisasi lengkap pada jadwal, cuci tangan pakai sabun dan nutrisi.
“Jadi dengan orang tua yang punya pengetahuan dan perilaku positif terhadap tiga area tadi diharapkan anak-anak akan tumbuh optimal pada 2045 menjadi generasi sehat sesuai cita-citanya,” harap Ardy.
Diungkapkannya, tahun lalu pihaknya melakukan pilot project di Kabupaten Banjar dengan hasil bagus dan diputuskan program tersebut berlanjut pada 2025. Sejauh ini ada empat puskesmas yang belum tercakup dan diharapkan akan ada dukungan dari para pendukung nantinya.
Sementara itu, Kadinkes Banjar Yasna Khairina mengatakan, program keluarga Sigap melibatkan beberapa unsur yang diharapkan dapat diterima masyarakat dan memanfaatkannya secara maksimal.
Dia mengatakan merubah kebiasaan di masyarakat bukanlah hal yang mudah perlu proses, perlu waktu, artinya di awal-awal masyarakat harus lebih diinformasikan manfaatnya dan biasanya jika hal ini diketahui maka masyarakat akan sukarela melakukan salah satu yang termasuk di program ini misalnya imunisasi secara lengkap.