Martapura, (Antaranews.Kalsel) - Julukan Kota Martapura sebagai Kota Serambi Mekah di Provinsi Kalimantan Selatan mulai pudar seiring perkembangan dan kemajuan jaman akibat pengaruh modernisasi dan globalisasi.
Pernyataan itu disampaikan ulama yang juga Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Martapura Khalilurrahman, Minggu saat diminta komentarnya terkait julukan Serambi Mekah bagi ibukota Kabupaten Banjar itu.
"Julukan itu sudah mulai pudar dan kepudarannya terasa di atas tahun 70-an karena pengaruh modernisasi dan globalisasi," ujar ulama sepuh Kota Martapura dengan gelar Kyai Haji di depan namanya itu.
Ia menggambarkan, tahun 70-an nuansa agamis dan religius sangat terasa mengisi keseharian masyarakat di ibukota kabupaten yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Banjarmasin ibukota Provinsi Kalsel itu.
Namun, kata dia, memasuki tahun 80-an, pelan namun pasti nuansa agamis dan religius itu memudar seiring perkembangan dan kemajuan jaman yang dipengaruhi modernisasi dan globalisasi.
"Dulu, melihat perempuan yang keluar rumah saja sulit setengah mati, sekarang perempuan semakin banyak bahkan yang membuat hati miris dan prihatin yakni pakaian yang dikenakan agak terbuka," sebutnya.
Menurut Khalilurrahman yang juga menjabat Ketua MUI Kabupaten Banjar itu, menurunnya nilai-nilai agamis dan religius yang berdampak memudarnya julukan Kota Serambi Mekah itu tidak bisa dihindari.
Hal itu, kata dia menekankan, Nabi Muhammad junjungan umat muslim sudah menggambarkan hilangnya masa keemasan kaum muslim akibat perkembangan dan kemajuan jaman yang semakin maju.
"Nabi Muhammad sudah memberi sinyal datangnya kehancuran agama yang akan hilang seiring kemajuan dan perkembangan jaman sehingga ulama dan ahli agama hanya memperlambat kehancuran itu," ungkapnya.
Dikatakan, tantangan kemajuan dan perkembangan jaman di era modernisasi dan globalisasi terutama pengaruh teknologi merupakan suatu tantangan terbesar bagi setiap umat muslim di Martapura khususnya.
"Siapa yang mampu bertahan dan menghadapi godaan duniawi, itulah yang menjadi pemenang dan kami bersama ulama lain tetap mencetak santri dan generasi Islami melalui pondok pesantren," katanya.
