Air terjun Sungai Karo tinggi 80 meter, terletak di kaki Gunung Halau Halau Pegunungan Meratus, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Kalimantan Selatan berpotensi ekowisata kawasan setempat.
Dr Ir Abdul Haris Mustari selalu anggota tim peneliti ekspedisi khatulistiwa HST melalui emailnya kepada ANTARA Banjarmasin, Jumat menuturkan dinamakan Air Terjun Sungai Karo, karena air terjun itu merupakan salah satu segmen/ruas dari Sungai Karo.
Lokasi air terjun dapat dicapai dengan berjalan kaki dari kampung Kiyo, Desa Batu Kembar, Kecamatan Batang Alai Timur, sekitar 4 jam perjalanan mengikuti jalan setapak, kata dosen pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut.
Tim Ekspedisi Khatulistiwa dengan DanTim Peneliti Kapten Efendi , DanTim Penjelajah Lettu Catur WB, dan peneliti dari IPB Dr Ir Abdul Haris Mustari, beserta 25 orang melakukan kajian pada bidang kehutanan, flora dan fauna, potensi bencana dan kondisi geologi.
Selain itu melakukan kajian adat istiadat Dayak Meratus pada periode 18 April sampai 6 Mei, melalui Jalur Kampung Kiyo-Datar Rampakan, Juhu-Juh Batu Sebiji-Juhu Batu Bincatan-Batu Perahu-Sumbai-dan kembali ke Kiyo.
Ekplorasi di sekitar air terjun Sungai Karo dan pendakian ke puncak Gunung Halau Halau dilakukan pada tanggal 3-4 Mei.
Kondisi vegetasi di sekitar air terjun itu termasuk hutan primer yang didominasi oleh jenis pohon Meranti Putih, Meranti Kuning, Meranti Merah, Seluang Ai dan Agathis, maka kualitas air terjun Sungai Karo sangat baik, jernih serta debitnya yang stabil sepanjang tahun.
Karena itu airnya dapat langsung diminum karena airnya jernih dan belum tercemar sama sekali.
Air Terjun Sungai Karo berpotensi dikembangkan sebagai salah satu obyek wisata khususnya wisata minat khusus dan pencinta alam termasuk wildlife photographers.
Kualitas air yang sangat bagus, vegetasi hutan primer Pegunungan Meratus, kekayaan flora dan fauna serta adat istiadat Suku Dayak Meratus merupakan potensi wisata yang memiliki keunggulan komparatif.
Bagi pencinta alam atau pengunjung yang memiliki fisik yang cukup bagus, mengunjungi Air Terjun Sungai Karo dapat dirangkaikan dengan mendaki puncak Gunung Halau Halau dimana pemandangan eksotis khas Meratus dapat dijumpai di sepanjang jalan setapak menuju puncak gunung. Jenis satwa yang dapat dijumpai diantaranya burung Enggang dan Undau atau Owa Kalawet, keduanya merupakan satwa endemik Kalimantan. Jenis tumbuhan berdiameter besar mencapai 2 m seperti berbagai jenis Meranti serta tumbuhan berkhasiat obat seperti Saluang Belum, Ulur Ulur, dan Pasak Bumi, yang kesemuanya itu memperkaya khasanah Air Terjun Sungai Karo dan Gunung Halau Halau.
Meskipun kedua lokasi itu dianggap keramat oleh penduduk lokal karena terkait dengan nenek moyang dan para Datok Dayak Meratus, namun terlebih dahulu meminta ijin dan memberitahukan maksud kedatangan kepada ketua adat, sesepuh kampung, serta dengan menyertakan penduduk lokal sebagai pemandu jalan, dan dengan niat yang baik, kedua lokasi yang menarik itu dapat dikunjungi.
Selama ini hanya pencinta alam yang mengunjungi Air Terjun Sungai Karo dan Gunung Halau Halau serta beberapa turis asing yang menyukai petualangan alam Pegunungan Meratus.
Di kampung Kiyo ada lima orang penduduk asli yang dapat menjadi pemandu wisata (guide) ketika mengunjungi air terjun Sungai Karo dan Gunung Halau Halau.hsn?B
