Tanjung (ANTARA) - Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah  (Bapperida)  Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, menyatakan prevalensi stunting naik lima persen dari 18,1 persen menjadi 23,1 persen.

Kepala Bapperida Kabupaten Tabalong Arianto mengatakan prevalensi  kenaikan kasus gagal tumbuh kembang pada balita ini mengacu hasil Survei Status Gizi Indonesia  (SSGI) tahun 2024.

"Perlu langkah strategis untuk mengatasi masih tingginya angka stunting salah satunya penerapan teknis pelaporan konvergensi melalui aplikasi Kementerian Dalam Negeri," jelas Arianto, Senin.

Menurutnya, angka stunting lebih 20 persen menunjukkan  permasalahan serius  di masyarakat yang perlu ditangani melalui lintas sektoral.

Terpisah, salah satu tenaga kesehatan di UPT Puskesmas Pugaan Rosita menyebutkan dari 544 balita tersebar di tujuh desa tercatat 63  anak atau 11,58 persen berstatus stunting.

"Kebanyakan balita stunting karena pola asuh yang kurang tepat dengan  pemberian makanan kurang memenuhi standar gizi," tuturnya.

Dari tujuh desa di Kecamatan Pugaan, kasus stunting terbanyak di Desa Pampanan, yakni 17 balita dan Desa Pugaan 13 balita.

Sebelumnya  sosialisasi dan bimtek  pelaporan konvergensi dan percepatan penurunan stunting melalui aplikasi Aksi Konvergensi Bangda Kemendagri  diikuti jajaran SKPD terkait, para camat, hingga kepala puskesmas se-Kabupaten Tabalong.

Sosialisasi dan Bintek  ini upaya Pemkab Tabalong   memperkuat koordinasi lintas sektor, sekaligus meningkatkan pemahaman aparatur terhadap sistem pelaporan terbaru penanganan stunting melalui aplikasi resmi Kemendagri.



Pewarta: Herlina Lasmianti
Editor : Mahdani

COPYRIGHT © ANTARA 2026