Bali (ANTARA) - Komisi II Bidang Ekonomi dan Pembangunan DPRD Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) dalami atau pelajari inovasi perikanan berbasis energi terbarukan.
"Kita perlu pelajari inovasi perikanan berbasis energi terbarukan. Pada kesempatan kali ini kami studi komparasi ke Provinsi Bali," ujar Ketua Komisi II DPRD Kalsel Muhammad Yani Helmi ketika dikonfirmasi, Sabtu.
Baca juga: DPRD Kalsel Kunker terkait pendidikan dan kesehatan ke DKI dan Jatim
Pemanfaatan teknologi energi terbarukan berbasis solar system memiliki peran strategis dalam menopang ketahanan pangan, khususnya dari sektor kelautan dan perikanan.
Inovasi tersebut tidak hanya meningkatkan efisiensi pengolahan hasil tangkapan nelayan, tetapi juga berkontribusi dalam menjaga mutu ikan agar tetap layak konsumsi serta memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Didampingi Anggota Komisi II DPRD Kalsel Umar Sadik serta Kepala Pelabuhan Ikan Batulicin dan Kotabaru, Ketua Komisi II Muhammad Yani Helmi kunjungan ke Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bali, Jumat (19/12) untuk studi komparasi.
Wakil rakyat dari Partai Golkar asal daerah pemilihan Kalsel VI/Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) itu mengungkapkan ketertarikannya terhadap inovasi mesin pengering ikan berbasis solar system yang Bali terapkan.
Menurut Anggota DPRD Kalsel dua periode yang akrab dengan sapaan Paman Yani itu, sistem solar atau tenaga surya tersebut memungkinkan proses pengeringan ikan berjalan optimal tanpa bergantung pada cuaca.
“Mesin pengering ikan ini sangat menarik karena menggunakan sistem tenaga surya, sehingga tidak perlu menunggu sinar matahari langsung. Ini menjadi salah satu kebutuhan masyarakat Kalsel khususnya dalam menjaga kualitas dan ketersediaan ikan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, pengelolaan pelabuhan perikanan di Bali juga terintegrasi dengan sektor pariwisata, sehingga distribusi ikan berlangsung sangat cepat. Hasil tangkapan nelayan tersebut masyarakat dapat langsung membeli dan mengolah menjadi makanan siap saji di kawasan yang berdekatan, sehingga tidak memerlukan penyimpanan jangka panjang menggunakan cold storage.
“Hal tersebut menjadi ilmu baru bagi kami, bagaimana pariwisata bisa berjalan beriringan dengan pelabuhan perikanan. Berbeda dengan di Kalsel, distribusi ikan bisa memakan waktu beberapa hari sehingga cold storage masih sangat dibutuhkan,” ujar Paman Yani.
Umar Sadik menambahkan, sistem pengelolaan perikanan di Bali memberikan banyak pembelajaran bagi Kalsel seperti pemanfaatan teknologi pengeringan ikan berbasis energi terbarukan tidak hanya efisien, tetapi juga mampu meningkatkan nilai tambah hasil perikanan.
“Apa yang kami lihat di Bali bisa menjadi referensi penting bagi Kalsel, terutama dalam mengoptimalkan hasil tangkapan nelayan agar lebih tahan lama dan bernilai ekonomi lebih tinggi, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari sektor kelautan,” ujarnya.
Baca juga: Komisi III DPRD Kalsel berharap pengelolaan Sungai Barito dilakukan konsisten
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Bali, N. Gde Ari Jayadi yang menerima kunjungan wakil rakyat Kalsel tersebut menjelaskan, penerapan sistem pengeringan ikan berbasis solar system yang terintegrasi dengan distribusi cepat dan kawasan pariwisata terbukti efektif dalam menjaga mutu hasil perikanan.
