Tradisi turun-temurun yang menjadi kebanggaan masyarakat Tapin ini diikuti sebanyak 3.160 peserta resmi terdaftar, mulai dari bayi berusia 21 hari hingga lansia berusia 96 tahun.
Baca juga: Tapin luncurkan aplikasi Si Intan guna kelola aset tanah
“Tradisi ini mencerminkan rasa syukur sekaligus doa agar anak-anak yang diayun tumbuh sehat dan berakhlak mulia,” ujar Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Muhammad Syarifuddin di Rantau, Tapin, Selasa.
Syarifuddin menegaskan Baayun Maulid bukan hanya simbol, melainkan wujud integrasi nilai keagamaan dengan budaya lokal.
Ia berharap tradisi tersebut terus dijaga dan dikembangkan, bukan hanya sebagai agenda keagamaan, tetapi juga daya tarik budaya yang mampu mempererat persaudaraan dan memperkuat identitas Banua.
“Semoga Baayun Maulid dapat menjadi warisan budaya yang semakin dikenal, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional,” ujarnya.
Baca juga: Tapin ajukan proyek infrastruktur lewat dukungan internasional
Bupati Tapin H Yamani menyampaikan, Baayun Maulid telah menjadi ikon daerah yang setiap tahun menarik perhatian masyarakat luar daerah.
“Alhamdulillah, banyak masyarakat dari luar ikut berpartisipasi. Ini kebanggaan bagi Tapin,” kata Yamani.
Sementara itu, panitia pelaksana Ahmad Suriansyah menyebutkan peserta tidak hanya berasal dari berbagai kabupaten/kota di Kalimantan Selatan, tetapi juga dari daerah lain, termasuk Tangerang dan Banten.
"Antusiasme terus meningkat setiap tahunnya, dan dengan dukungan semua pihak, tradisi ini bisa berkembang menjadi warisan budaya yang mendunia,” ucapnya.
Baca juga: Tapin surplus beras, stok pangan dinilai aman
Pewarta: Muhammad Rastaferian PasyaEditor : Taufik Ridwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026