Banjarbaru (ANTARA) - Dinas Perdagangan Provinsi Kalimantan Selatan (Disdag Kalsel) berupaya mengendalikan harga gula konsumsi dan minyak goreng agar tetap stabil dan terkendali saat terjadi fluktuasi distribusi nasional.
Kepala Disdag Provinsi Kalsel Ahmad Bagiawan dikonfirmasi di Banjarbaru, Senin mengatakan, harga gula konsumsi meningkat tipis menjadi Rp17.630 per kilogram dari harga acuan Rp17.500, namun secara umum masih stabil di Kalsel.
Baca juga: Disdag Kalsel studi komparasi ke Jabar perkuat UMKM dan IKM
"Kenaikan harga itu disebabkan menurunnya pasokan dari Pulau Jawa akibat faktor cuaca dan distribusi," kata Bagiawan.
Dia mengungkapkan, Provinsi Kalsel masih mengandalkan pasokan gula dari luar Pulau Kalimantan, sehingga rentan terjadi gangguan distribusi akibat kendala transportasi laut, seperti gelombang tinggi.
Namun, Pemprov Kalsel dan pemangku kebijakan lain terus memantau pergerakan harga agar tetap sesuai dengan harga acuan pemerintah termasuk Harga Eceran Tertinggi (HET) Minyak Kita pada kisaran Rp15.700 per liter, sedangkan harga pasaran di atas HET.
Sementara, komoditas strategis lain seperti minyak goreng "Minyak Kita", Bagiawan menyebutkan, persediaan produk tersebut masih aman di Kalsel, meskipun ada tantangan pada proses pengemasan ulang (repacking) karena terkendala perizinan.
“Kami sempat menghadapi kendala moratorium izin repacking. Tapi Insya Allah Agustus nanti moratorium dicabut dan proses pengemasan minyak curah menjadi Minyak Kita bisa kembali berjalan normal,” tuturnya.
Baca juga: Disdag Kalsel salurkan bahan pangan dukung Koperasi Merah Putih
Pasokan minyak goreng ke Kalsel selama ini juga masih berasal dari provinsi tetangga, namun Bagiawan menegaskan Kalsel punya potensi besar untuk produksi minyak curah secara mandiri melalui dua pemasok utama yang berbasis di Tarjun dan Batu Licin, Kabupaten Tanah Bumbu.
“Kalimantan Selatan sebenarnya sudah memiliki sentra penghasil minyak curah yang sangat potensial. Ini bisa jadi kekuatan distribusi dalam jangka panjang,” ungkap Bagiawan.
Dia menegaskan, terus bersinergi dengan pihak produsen dan pemerintah pusat untuk menjaga stabilitas harga pangan, terutama menjelang momentum penting di bulan Agustus yang biasanya diiringi lonjakan konsumsi masyarakat.
Contohnya, Pemprov Kalsel menghadiri High-Level Meeting yang digelar Bank Indonesia, guna membahas isu aktual harga pangan yang strategis secara rutin pada beberapa waktu lalu.
Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Kalsel juga menggelar High Level Meeting bertajuk Obrolan Pagi Seputar Inflasi (HLM OPSI) melibatkan sejumlah pemangku kebijakan guna menyoroti program jangka panjang pengawasan distribusi tabung LPG 3 kilogram di Banjarmasin.
