Hal itu dikemukakan Kepala BNPT Ansyaad Mbai melalui Deputi I BNPT Mayjen TNI Agus Surya Bhakti pada kegiatan Seminar Nasional bertema "Strategi Deradikalisasi pada Bidang Ideologi dan Keagamaan" di Banjarmasin, Rabu.
Kegiatan seminar yang diikuti lebih 250 orang itu, katanya, dilatarbelakangi adanya kenyataan perkembangan radikalisme dan terorisme yang sudah menjangkau hingga lapisan terbawah.
"Walaupun sudah banyak teroris ditangkap dan dihukum sesuai peraturan perundangan bahkan diantaranya dihukum mati, ternyata tidak membuat kelompok teroris jera," kata Agus yang membidangi Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT.
Salah satu hal yang membuat masih adanya kelompok teroris adalah karena ideologi mereka tetap hidup termausk tentang pandangan keagamaan yang salah khususnya tentang jihad.
Menurut dia, guna menghentikan penyebaran ideologi radikalisme dan terorisme bukanlah hal mudah karena pemikiran itu telah mengakar, sehingga diperlukan langkah strategis dan praktis.
Melalui seminar yang dilaksanakan secara estafet pada enam kota di Indonesia itu, kata Agus, diharapkan dapat menggali berbagai pemikiran konstruktif tentang strategi deradikalisasi pada bidang ideologi dan keagamaan.
Bagi bangsa Indonesia, Pancasila adalah final karena telah terbukti mempersatukan kehidupan berbangsa yang terdiri atas berbagai suku, agama, ras, golongan, budaya dan keyakinan dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia.
Menurut dia, mencermati adanya realitas bahwa Pancasila dikesampingkan, hal itu karena yang salah atau keliru adalah cara pemaknaan atas Pancasila.
"Pancasila sering dimaknai sebagai alat politik untuk meraih popularitas pribadi dan kelompok bahkan dijadikan alat untuk melanggengkan kekuasaan," katanya.
Gubernur Kalsel melalui Asisten I Pemprov Kalsel H. Fitri Rifani mengatakan, kendati Provinsi Kalsel relatif aman dari pengaruh radikalisme dan paham keagamaan yang salah, namun semua pihak tetap waspada.
"Aksi cegah dan tangkal tetap dibutuhkan mengingat terorisme bukan kejahatan biasa tetapi merupakan kejahatan kemanusiaan yang luar biasa dan lintas negara," katanya.
Menurut dia, aksi terorisme hingga kini belum ada di Kalsel, tetapi kalau radikalisme paham keagamaan yang salah belum diketahui secara persis keberadaannya.
Untuk itu perlu dukungan tokoh agama dan tokoh masyarakat serta masyarakat secara luas untuk bersama peduli dan peka terhadap situasi dan kondisi lingkungan masing-masing.
Dalam seminar sehari itu banyak pemikiran dan pendapat terkait dengan strategi deradikalisasi antara lain peningkatan peran pendidikan umum dan keagamaan, penjabaran Pancasila serta pemahaman bahwa tidak semua radikalisme itu dapat diberi label terorisme.
"Radikalisme itu tidak serta merta terorisme, begitu pula banyaknya pelabelan bahwa Islam itu terorisme sehingga penanganannya harus komprehensif," kata salah seorang peserta dari Fakultas Hukum Unlam Banjarmasin.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.