Samarinda (ANTARA) - Kota itu tergolong kecil dengan luas wilayahnya 497,57 km persegi, terdiri atas daratan 147,80 km persegi dan laut 349,77 km persegi. Hanya tiga kecamatan di dalamnya dengan jumlah penduduk yang sedikit, sekitar 194.600 jiwa.
Selain digerakkan oleh industri besar yang terus menggeliat, kota ini juga memiliki pembangunan berwawasan lingkungan, yaitu dengan pengembangan ekowisata bakau dan vila terapung laut yang mengedepankan persahabatan antara aktivitas ekonomi dan kelestarian alam.
Namanya Kota Bontang, bagian dari Provinsi Kalimantan Timur. Lokasinya sekira 120 kilometer arah utara dari Kota Samarinda. Pada 2025, Bontang merupakan daerah terkaya se-Pulau Kalimantan dengan produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita mencapai Rp371,19 juta per kapita.
PDRB Bontang itu ditopang oleh dua industri raksasa dan penghasil gas bumi terbesar di Indonesia, PT Badak LNG dan PT Pupuk Kalimantan Timur.
Uniknya, walau kota yang terkenal dengan pemukiman di atas laut ini tidak memiliki perkebunan sawit skala besar, total hanya seluas 51 hektare dengan produksi 159,5 ton tandan buah segar (TBS), pemerintah daerahnya optimistis dalam masa depan hilirisasi sawit.
Meski luas dan produksi TBS sangat kecil, pemerintah setempat optimistis akan berhasil menapak titian masa depan hilirisasi sawit, terutama dalam produksi fatty amine (amina lemak) dan fatty acid (asam lemak).
Keyakinan menjadi kuat itu tidak lain karena Bontang dikelilingi perkebunan sawit begitu luas yang berada di kawasan tetangga di Kaltim dengan total 1,48 juta hektare, sebuah angka yang fantastis.
Pemkot Bontang dengan penuh keyakinan menjawab program hilirisasi sawit yang sejak lama digaungkan pemerintah. Melalui skema investment project ready to offer (IPRO) berupa industri turunan minyak kelapa sawit yang kaya nitrogen, investasi yang ditawarkan senilai Rp1,88 triliun.
Penyusunan dokumen paket proyek investasi sudah lengkap, teruji, dan ditawarkan ke investor, seiring melimpahnya produksi TBS sawit dari daerah yang mengapit Bontang. Secara infrastruktur hilirisasi pun sudah siap, sehingga kota taman ini akan melesat dari hilirisasi sawit.
"Proyek ini akan mampu memperluas rantai pasok pengolahan kelapa sawit secara masif, sekaligus menjadi jawaban konkret untuk mengurangi ketergantungan impor bahan kimia industri dalam negeri," kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang Muhammad Aspian Nur.
Industri fatty amine direncanakan berdiri di kawasan Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang. Kawasan ini dipilih karena memiliki keunggulan geopolitik dan logistik yang sudah matang.
KIE berdekatan dengan pelabuhan utama dan kawasan industri yang sudah berjalan, didukung penuh oleh infrastruktur energi andalan Bontang, serta berada di wilayah yang dekat dengan produsen amonia dan raksasa petrokimia.
Sementara Provinsi Kaltim sebagai salah satu lumbung kelapa sawit terbesar di Indonesia juga menjamin keberlanjutan pasokan bahan baku secara jangka panjang, sehingga hal ini makin menambah optimisme Bontang.
Fatty amine yang merupakan produk turunan kelapa sawit bernilai tambah tinggi itu merupakan bahan baku utama consumer goods, mulai dari pelembut pakaian, deterjen, kosmetik, hingga produk pembersih rumah tangga.
Terlebih hingga kini kebutuhan fatty amine domestik masih begitu bergantung pada pasokan impor, sementara ceruk pasar global untuk komoditas ini memiliki peluang besar dan diyakini terus berkembang.
Pada 2022 saja, permintaan dunia terhadap fatty amine menembus 1,7 juta ton. Bahkan diprediksi terus meroket hingga tahun 2029 dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 6,6 persen.
Bagi para calon investor, proyek yang dirancang memiliki kapasitas produksi mencapai 20 ribu ton dan gliserol 4 ribu ton per tahun ini, menawarkan indikator keuangan yang sangat sehat dan menjanjikan.
Bukan hanya mengejar profitabilitas, proyek ini juga dirancang sebagai pionir industri masa depan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Investasi Rp3,77 triliun
Bontang pun siap memproduksi fatty acid, bahan baku penting dalam industri manufaktur, mulai kosmetik, sabun, detergen, plastik, tekstil, pelumas, hingga produk perawatan pribadi, baik untuk memenuhi kebutuhan nasional maupun pasar ekspor.
Ia menargetkan proyek hilirisasi sawit ini mampu mendongkrak nilai tambah komoditas perkebunan bukan hanya bagi Kaltim, tapi juga Indonesia. Sekaligus memangkas kebergantungan industri dalam negeri terhadap produk impor.
Pemda memilih proyek ini karena amina lemak merupakan produk hilirisasi oleokimia dengan permintaan global tinggi. Terlebih saat ini industri oleokimia dunia berada dalam sektor yang terus tumbuh positif.
Konsumsi produk turunannya diproyeksi tumbuh rata-rata 7 persen per tahun, terutama didorong oleh permintaan pasar Asia dan sejumlah negara di Eropa.
Sedangkan Bontang memiliki modal kuat untuk memimpin pasar ini, didukung oleh produksi crude palm oil (CPO) di Kaltim yang melimpah, rata-rata 4 juta ton per tahun.
Pabrik ini tidak hanya akan memperkuat posisi Bontang sebagai kota industri strategis, tetapi yang paling penting adalah menciptakan ratusan lapangan kerja baru, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memperluas kontribusi ekspor produk hilir kelapa sawit.
Untuk operasional, pabrik ini dirancang memiliki kapasitas produksi 91,2 ribu ton per tahun dengan kebutuhan bahan baku CPO sebesar 45 ribu ton per tahun, sehingga bagi para investor, profil proyek ini menawarkan indikator kelayakan finansial yang sangat sehat dan menjanjikan.
Sebagai upaya merealisasikan industri hijau ini, DPMPTSP Bontang pun telah menyelesaikan skema IPRO fatty acid senilai Rp3,77 triliun yang langsung ditawarkan kepada investor domestik maupun global.
Upaya ini menjadi bagian dari promosi investasi strategis bagi Bontang dan Kaltim untuk memperkuat industri hilir oleokimia nasional. Sementara lokasi industri manufaktur raksasa ini juga ditetapkan berdiri di kawasan KIE Bontang.
Salah satu kawasan industri strategis tersebut memiliki keunggulan konektivitas dan infrastruktur matang, tak jauh dari Pelabuhan Lok Tuan dan Pelabuhan LNG Badak, menjadikan distribusi ekspor maupun pasar domestik menjadi lebih lancar.
Realisasi dan target
Hilirisasi dan industri pengolahan di Bontang merupakan lapangan usaha yang paling tinggi menyerap investasi kategori penanaman modal dalam negeri (PMDN), memberi andil sebesar 85,96 persen dari total PMDN Rp3,02 triliun.
Sementara total investasi masuk Bontang pada 2025 sebesar Rp3,08 triliun, berasal dari PMDN Rp3,02 triliun dan penanaman modal asing (PMA) Rp54,11 miliar, menggambarkan bahwa Bontang sangat siap dengan beragam industri.
Realisasi ini menjelaskan bahwa PMDN menjadi tulang punggung dalam pertumbuhan investasi di Bontang, meskipun PMA tetap memberikan peran strategis dalam pengembangan sektor tertentu.
Tahun ini, Bontang juga optimis mampu mencapai target investasi Rp3,42 triliun, didukung infrastruktur mapan dan kemudahan perizinan melalui sistem OSS.
Target ini naik sebesar 11,24 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Meski target yang diberikan Pemerintah Provinsi Kaltim lebih tinggi dari rencana awal, namun sikap optimistis bakal terwujud, terpancar dari realisasi triwulan I (Januari-Maret) 2026 yang sudah mencatatkan investasi Rp796,78 miliar.
Pencapaian ini sudah memenuhi 23,25 persen dari target tahunan, sehingga menjadi sinyal hijau bagi para calon investor yang ingin menanamkan modalnya di kota yang memang kondusif ini.
Investasi di Bontang terbagi dalam tiga zona strategis yang memiliki karakteristik unik, yakni Kecamatan Bontang Utara, Bontang Selatan, dan Kecamatan Bontang Barat.
Bontang Utara, yang merupakan jantung industri, menjadi penyumbang terbesar melalui sektor industri kimia dasar dan farmasi, di antaranya oleh PT Kaltim Metanol Industri yang terus memperkuat produksinya di kawasan tersebut.
Bontang Selatan yang merupakan kawasan urban, difokuskan pada pembangunan perumahan, kawasan industri, dan perkantoran, seiring meningkatnya populasi dan aktivitas ekonomi.
Sedangkan Bontang Barat yang merupakan pusat perdagangan, sektor jasa dan kuliner maupun restoran mendominasi usaha, diperkuat dengan hadirnya pelaku usaha besar yang menunjukkan kuatnya daya beli warga.
Dampak nyata dari derasnya arus investasi ini adalah terciptanya lapangan kerja yang tentu membantu mengurangi angka pengangguran. Pada triwulan I 2026 saja, aktivitas investasi berhasil menyerap 939 tenaga kerja.
Dari menapak titian hilirisasi sawit hingga kemudahan memikat investor, Bontang optimis akan melenggang di jembatan ekonomi yang kokoh, bukan lagi titian, menuju masyarakat makin sejahtera seiring PDRB per kapita yang akan meroket.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Masa depan hilirisasi sawit di kota terkaya di Kalimantan
Pewarta: M GhofarEditor : Mahdani
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.