Banjarmasin (ANTARA) - Salah satu bahan untuk kegiatan budaya dan keagamaan dalam masyarakat di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, adalah kembang berenteng (bunga yang dirangkai) kini marak diperjualbelikan.
Hasil pemantauan wartawan Antara Kalsel, Minggu Kembang berentang banyak diperjualbelikan di kawasan sentra penziarah masyarakat jelang lebaran, seperti kawasan pemakanan, kubur kramat, dan mesjid.
Sebagai contoh wilayah pemakanan Sungai Jingah, mesjid Jami Banjarmasin, Mesjid dan Makan Suriansyah Kampung Kuin, dan beberapa lokasi lagi.
Selain itu, pusat penjualan kembang berenteng bisa terlihat di Pasar Lama, Pasar Sudirmampir, Pasar Antasari, Pasar Kuripan, Pasar Yani Jalan Veteran, dan beberapa tempat lagi.
Kembang berenteng dijual per renteng, atau beberapa tangkai minimal Rp5 ribu lima tangkai, dan Rp10 ribu sepuluh tangkai. Satu tangkai adalah satu tali terbuat dari serat pelapah gedang pisang.
Menurut keterengan, kembang berenteng digunakan untuk tabur bunga bagi penziarah serta untuk bahan mandi mandi kembang malam lebaran, dengan mandi kembang dipercaya bisa mengharumkan badan di saat lebaran.
Kebiasaan lain kembang berenteng banyak digunakan untuk budaya kenduri, kawinan, mauludan rasul, dan budaya batamat atau khatam al Qur'an.
Produksi kembang berentang ini sebagian besar berasal dari Desa Pengambangan Banjarmasin Timur, karena lokasi ini sejak dulu dikenal sebagai sentra perajin kembang berentang makanya desanya saja disebut "Pengambangan" artinya orang yang membuat kembang berenteng.
Kembang berenteng adalah beberapa jenis kembang atau bunga yang dirangkai, seperti bunga kenanga, bunga melati, bunga kembang kertas, bunga cempaka, dan daun pandan.
