Banjarmasin, (Antaranews.Kalsel) - Pengambangan energi alternatif biogas dengan memanfaatkan kotoran sapi atau biogas di Kalimantan Selatan sudah digalakkan sejak 2007, terbukti sejumlah kabupaten/kota sudah mulai menerapkannya.  
 
Termasuk Kabupaten Tabalong selain dikenal sebagai kaya sumber daya alam berupa batu bara dan migas juga memiliki potensi peternakan sapi dengan jumlah populasi sekitar 5.598 ekor dari hasil sensus peternakan.  

 Pemanfaatan kotoran sapi menjadi energi biogas telah dilaksanakandi lima kecamatan yakni Murung Pudak, Jaro, Haruai, Tanjung dan Bintang Ara.

    Selain dilaksanakan oleh Dinas Tanaman Pangan, Peternakan dan Perikanan setempat, pengolahan kotoran sapi menjadi biogas juga mendapat dukungan dari PT Pertamina aset V Tanjung field melalui tanggungjawab sosialnya berupa program corporate social responsibility (CSR).    
Dengan sasaran kelompok peternak  di wilayang ring 1 perusahaan masing-masing 2 unit di Kelurahan Gunung Sari, 1 unit di Desa Masukau dan 1 unit di Kelurahan Pandan Sari Kecamatan Murung Pudak sejak 2010.   
  Untuk membangun satu reaktor biogas atau digester biogas (alat pengolahan kotoran sapi menjadi biogas), pertamina mengalokasikan dana sebesar Rp30 juta pada 2010 dan naik menjadi sekitar Rp40 juta tahun selanjutnya yakni di Desa Kambitin dan Kelurahan Belimbing Raya..    
"Progam pembuatan biogas salah satu tanggungjawab sosial perusahaan untuk membantu warga mendapatkan energi alternatif mengingat makin mahalnya harga gas elpiji maupun minyak tanah sebagai bahan bakar untuk memasak," jelas staf humas PT Pertamina aset V Tanjung field, Zuraida Saputri.
     Dengan alasan berada lebih dekat  daerah operasional perusahaan migas ini, program pengembangan biogas pun hanya dilaksanakan di Kecamatan Murung Pudak (sebanyak lima lokasi) dan Tanjung (satu lokasi).      Akibatnya energi biogas yang diolah dari kotoran sapi melalui program CSR PT Pertamina aset V field Tanjung hanya dirasakan warga yang berada di dekat lokasi digester biogas yang tentunya memiliki ternak sapi.     
 Salah satunya Kurnain  Jafri (50) warga Kelurahan Belimbing Raya RT 4 yang hanya memiliki empat ekor sapi potong dan tinggal sekitar 150 meter dari alat pengolah biogas.     
Sejak 2010, Kurnain dan isterinya bisa memanfaatkan energi biogas untuk memasak dengan memanfaatkan kotoran sapi yang dimilikinya.      "Sebelum menggunakan biogas kami harus mengeluarkan uang Rp110 ribu tiap bulan untuk beli gas elpiji, sekarang bisa  lebih hemat karena sudah ada energi alternatif," jelas Kurnain.    Ironisnya, biogas yang dibangun di Kelurahan Belimbing RT 4 ini hanya bisa dirasakan Kurnain dan Dewi (AnakKurnain) yang kebetulan lebih dekat dari reaktor biogas sedangkan warga RT 4 lainnya belum bisa memanfaatkannya karena minimnya kotoran sapi yang tersedia.     
 Rahmadi,satu warga Kelurahan Belimbing RT 4 mengaku sangat berharap biogas bisa dimanfaatkannya untuk bahan bakar memasak karena gas yang dihasilkan masih kecil jadi belum sampai ke rumahnya.    
Dengan kebutuhan kotoran sapi  sekitar 20 sampai  40 kilogeram per hari untuk digester biogas dengan kapasitas 3 meter kubik diakui Kurnain masih sangat kurang.    
Mengingat produksi kotoran sapi yang dimilikinya hanya sekitar 8 kilogeram per hari dengan jumlah ternak hanya empat ekor.    Padahal jika populasi sapi bisa lebih banyak tentunya produksi kotoran bisa mencukupi kebutuhan reaktor gas maka gas meningkat.    
"Jika gas yang dihasilkan lebih banyak tentu daya jangkaunya bisa lebih jauh sehingga masyarakat yang bisa menikmati biogas pun bertambah," jelas Kurnain lagi.     
Pihak pertamina pun menyadari program pengembangan biogas belum bisa dioptimalkan oleh masyarakat sekitar daerah operasional perusahaan.    
Tahun ini pembangunan reaktor biogas belum bisa dilaksanakan hanya sebatas perawatan untuk memaksimalkan reaktor yang ada.    
 Dari data di Dinas Tanaman Pangan, Peternakan dan Perikanan (Distanakkan) Tabalong, populasi sapi di Kecamatan Murung Pudak dan Tanjung memang lebih kecil dibanding Jaro, Haruai dan Muara Uya.     
"Populasi sapi terbanyak di Kecamatan Jaro mencapai 1.093 ekor, Haruai 963 ekor dan Muara Uya 763 ekor sedangkan di Tanjung dan Murung Pudak kurang dari 100 ekor," jelas Kadistanakkan Tabalong, Johan Noor Effendi.      
Johan pun membenarkan untuk memaksimalkan pengembangan biogas harus didukung produksi kotoran sapi yang tersedia.     Jangan sampai reaktor biogas yang sudah dibangun jadi mubajir hanya karena kesulitan bahan baku (kotoran sapi).

Pewarta: herlina lasmianti
Editor : Asmuni Kadri

COPYRIGHT © ANTARA 2026