Amuntai, (Antaranews Kalsel) - Balai Benih Ikan di Kecamatan Banjang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, tidak mampu lagi melayani kebutuhan bibit ikan patin dari para petani kolam ikan di Kecamatan Haur Gading sehingga terpaksa memesannya dari Bogor.
Kabid Pengawasan dan Pemberdayaan Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskannak) HSU Rossy Estiawati di Amuntai, Sabtu, mengatakan Kecamatan Haur Gading telah ditetapkan sebagai kawasan kota ikan (minapolitan).
Penetapan tersebut, kata dia, terkait budidaya perikanan di daerah tersebut berkembang pesat, kini masyarakat daerah itu memiliki kolam ikan dengan omzet mencapai miliaran rupiah per tahun dengan kebutuhan bibit ikan patin mencapai ratusan ribu.
"Kalau bibit ikan patin yang dihasilkan BBI Banjang paling sekitar 240 ribu bibit, itu pun bergabung dengan jumlah bibit ikan nila dan lele yang hanya cukup untuk melayani kebutuhan bibit petani kolam dan keramba di beberapa kecamatan," kata Rossy.
Semula, kata Rossy, petani kolam ikan di Kecamatan Haur Gading juga membeli bibit Patin dari BBI Banjang, namun lambat laun usaha tersebut berkembang pesat, sehingga benih ikan patin tidak bisa dipenuhi lagi.
Ia mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan tersebut, petani terpaksa membeli bibit patin dari Bogor yang dijual salah seorang pengusaha bibit ikan di Cindai Alus Martapura, Kabupaten Banjar.
Padahal, lanjut Rossy, bibit ikan patin yang dihasilkan BBI Banjang merupakan bibit ikan lokal yang lebih baik kualitasnya dibanding bibit patin asal Bogor tersebut.
Namun petani di Haur Gading juga mulai mencoba membenihkan ikan patin lokal untuk memenuhi kebutuhan kelompoknya.
Rossy tidak menyangkal dari hasil pembudidayaan ikan patin di kolam rawa yang berkembang pesat di Desa Palimbang Sari, Kecamatan Haur Gading, kini telah memunculkan para petani kaya yang memiliki pendapatan di atas rata-rata petani di Kabupaten HSU lainnya.
Apalagi sebagai kawasan minapolitan, bantuan pemerintah pusat dan pemerintah daerah cukup banyak mengalir kepada kelompok pembudidaya ikan setempat.
Kelompok Pembudidaya Perikanan (Pokdakan) Baruh Makmur misalnya, merupakan kelompok yang paling berkembang di kawasan itu, bahkan telah mendapat kepercayaan pinjaman kredit dari pihak perbankan yang mencapai Rp1 miliar.
"Pinjaman ini mungkin akan ditambah Rp1 miliar lagi tahun depan apabila kelompok yang dipimpin H Abdul Haris itu mampu mengembalikan pinjamannya," kata Rossy.
