Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah menilai pertemuan kerajaan dan kesultanan se-Bornoe yang berlangsung di Ketapang, Kalimantan Barat dimaknai bukan sebuah "ratapan" sesama kaum Melayu Borneo (Kalimantan) tetapi upaya memperjuangankan memajukan kebudayaan Melayu.
Pertemuan ini memperjuangankan kebudayaan Melayu yang terintegrasi dengan nilai-nilai Islam dan adat Melayu serta meletakkan tonggak pemahaman warisan adat istiadat dan kearifan lokal baik dalam kancah regional, nasional, bahkan internasional dalam kerangka Negara Kesatuan Indonesia (NKRI), kata Khairul Saleh, Sabtu.
Hal itu merupakan salah satu poin buah pemikiran Sultan Banjar, Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah yang juga Bupati Kabupaten Banjar yang disampaikannya pada pertemuan kerajaan dan kesultanan dalam kaitan dalam rangkaian Festival Keraton Matan Tanjungpura ke II dari 2-8 Maret 2013.
Untuk itu, menurutnya penting Forum Kerajaan Se-Borneo ini melakukan revitalisasi, restorasi, dan Transformasi Kebudayaan Melayu dalam menghadapi tantangan global di tanah Borneo/Kalimantan.
Kekuatan eksistensi kebudayaan Melayu Borneo/Kalimantan harus menjadi "tuan di negeri sendiri", bukan sebaliknya hanya sebagai pelengkap saja di acara-acara seremonial bahkan setara dengan kebudayaan yang hadir dari gerakan migrasi penduduk.
Selain itu pemikiran adanya pembentukan Forum Kerajaan Se-Borneo adalah sebuah gagasan cerdas dalam rangka memanggungkan adat menjemput zaman.
Jika sebelumnya sudah terbentuk beberapa forum seperti Forum Silaturahmi Kerajaan Nusantara dan lainnya lebih menitikberatkan pada tataran yang luas, justru Forum Kerajaan Se-Borneo ini merupakan cikal bakal Forum se-kawasan, sebagaimana ASEAN sebagai representasi forum Negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
Di Sisi lain ini merupakan bentuk responsif atas perkembangan zaman dan ruang terbuka pengembangan kebudayaan khususnya keraton,kerajaan, kesultanan dalam rangka bersama-sama membangun kebudayaan nasional dan penegasan ke-Bhineka Tunggal Ika-an dalam kerangka NKRI.
Sejarah tidak bisa dipungkiri, bahwa peradaban dan kompleksitas tatanan kebudayaan di kawasan Borneo turut diwarnai dari produk kebudayaan keraton/kerajaan/kesultanan.
Kerajaan-kerajaan di Borneo rata-rata berbasis Melayu-Islam sebagai pijakan dasar,falsafah kerajaan,kesultanan yang menghasilkan peradaban masyarakat melayu dengan kekhasannya tersendiri di kawasan Tanah Borneo/Kalimantan ini.
Dalam perkembangannya hasil karsa, karya, dan kreasi masyarakatnya turut memberikan warna dan khazanah peradaban dunia Melayu.
Jadi pertemuan dan silaturahmi pada forum ini merupakan sebuah "jalan baru" pengekalan kebudayaan Melayu, kata Sultan Banjar tersebut/D.
