Selasa, 19 September 2017

Penyakit HIV/AIDS Di HST Meningkat

id HIV/AIDS
Penyakit HIV/AIDS Di HST  Meningkat
Rakoor pembentukan Pokja penanggulangan TB paru, HIV/AIDS dan Filariasis (AntaraNews Kalsel/M. Taupik Rahman)
Kita akan menguatkan komitmen dengan membuat regulasi tentang perda eleminasi penyakit HIV/AIDS ini hingga meningkatkan pendanaan penanggulanggannya
Barabai, (Antaranews Kalsel) - Penderita penyakit mematikan yang disebabkan oleh virus Human Immunodeficeincy Virus (HIV) dan Acquired Immune Defeciency Syndrome (AIDS) di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) dari tahun 2014 sampai 2017 ini terus meningkat.

Perwakilan dari Dinas Kesehatan HST Sakdillah saat rakoor pembentukan Pokja penanggulangan TB paru, HIV/AIDS dan Filariasis Rabu (13/9) di Auditorium Pemkab HST menyampaikan sampai bulan Agustus 2017 tadi terdapat 53 orang yang sudah terinfeksi dan 29 orang dinyatakan meninggal.

"Kasus HIV/AIDS ini tersebar di 14 Puskesmas dari 19 Puskesmas se Kabupaten HST dan terbanyak ada di Puskesmas Barabai yaitu 15 kasus," katanya.

Menurut dia, di Puskesmas Pandawan juga ditemukan sebanyak 7 kasus, Puskesmas Durian Gantang dan Sungai Buluh masing-masing 4 kasus, dan Puskesmas Pagat 3 kasus.

"Untuk di Puskesmas Pantai Hambawang, Birayang, Hantakan, Kalibaru, Kasarangan dan Haruyan masing-masing terdapat 2 kasus sedangkan di Puskesmas Awang Besar, Limpasu dan Kubur Jawa masing-masing cuma 1 kasus," kata Sakdillah.

Dia juga menjelaskan Data kasus HIV/AIDS untuk Provinsi Kalsel dari tahun 2002 sampai 2016 ditemukan sebanyak 1667 kasus dan penemuan baru di tahun 2016 sebanyak 265 kasus.

"Dari data tersebut penularannya 89,9 Persen disebabkan faktor resiko seksual dan kasusnya lebih banyak ditemukan pada pemuda di usia produktif 20 sampai 29 tahun," terangnya.

Melihat peningkatan kasus HIV/AIDS itu Bupati HST yang diwakili Plt Sekda H Akhmad Tamzil berharap menjadi perhatian semua pihak untuk melakukan langkah-langkah dan upaya pencegahan dan penanggulangannya.

"Menaggulangi ini perlu kerjasama yang maksimal dengan melakukan pemetaan fasilitas layanan potensial dan mitra yang dapat berkontribusi dalam penemuan pasien HIV/AID seperti RS, Dokter Praktek mandiri, laboratorium dan organisasi kesehatan," katanya.

Selanjutnya Dia mengungkapkan perlu adanya Investigasi kontak terutama mereka yang tinggal di wilayah yang berisiko tinggi penularan dan dilakukan pemantauan kepatuhan minum obat secara terus menerus kepada pasien.

"Kita juga akan menguatkan komitmen dengan membuat regulasi tentang perda eleminasi penyakit HIV/AIDS ini hingga meningkatkan pendanaan penanggulanggannya," kata Tamzil.

Editor: Muhammad Taufikurrahman 

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga