Dua jenis hewan ternak yang merupakan plasma nuftah di Kalimantan Selatan, yakni itik alabio dan kerbau rawa masuk dalam rekomendasi yang diajukan tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).

Kedua hewan ternak itu masuk rekomendasi KLHS sebagai bahan masukan bagi penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) periode 2013-2017, demikian keterangan Humas Pemkab HSU kepada ANTARA, Minggu.

Itik alabio maupun kerbau rawa direkomendasikan untuk ditetapkan sebagai salah satu produk unggulan daerah demi menjaga kelestarian spesies lokal yang menjadi ciri khas HSU.

"Dua spesies ini perlu ditetapkan sebagai salah satu produk unggulan daerah guna menjaga kelestarian dan habitatnya," ujar Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) HSU Ir Supomo selaku Koordinator tim Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) pada seminar di Amuntai, ibu kota HSU.

Karena itu, kata Supomo, juga harus ditetapkan kawasan yang menjadi sentra peternakan murni kedua spesies ini dalam upaya pelestarian dan pengembangbiakannya, yakni Desa Mamar sebagai sentra pembibitan itik alabio dan Kecamatan Danau Panggang serta Paminggir sebagai kawasan peternakan kerbau rawa.

Menurut Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan HSU Ir Suriani, habitat kerbau rawa perlu dijaga dari upaya pengembangan kawasan karena peternakan ini memerlukan kawasan tersendiri yang menjadi habitat hidupnya.

"Ternak ini sangat unggul karena selain mudah dalam pemeliharaannya juga tidak terlalu berbenturan dengan kawasan konservasi ikan" kata Suriani.

Dengan mudahnya pemeliharaan ternak ini maka satu orang peternak, kata Suriani, mampu memelihara hingga 100 ekor kerbau rawa di suatu habitatnya.

Setiap pagi puluhan hewan ternak ini dilepas begitu saja oleh pemiliknya dari kandangnya untuk mencari makan sendiri di kawasan padang rawa karena hewan ini juga pandai berenang mengarungi perairan rawa.

"Namun jika habitat atau kawasannya terganggu akibat pengembangan wilayah atau pengrusakan lingkungan maka pengembangbiakan ternak ini bisa terganggu pula," tuturnya.

Untuk ternak itik alabio juga telah menjadi produk unggulan daerah dan mampu memberi penghidupan bagi sebagian besar warga Kabupaten HSU yang beternak itik alabio.

"Itik alabio sudah menjadi ciri khas yang tidak dimiliki daerah lain dan menjadi mata pencarian masyarakat yang perlu dilestarikan dan dikembangkan," katanya pula.

Selain merekomendasikan kedua spesies ini untuk ditetapkan sebagai produk unggulan, seminar akhir tersebut juga turut dihadiri perwakilan Direktorat Fasilitasi, Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup pada Kementerian Dalam Negeri (Mendagri) Diah Indradjati tersebut.

Tim KLHS HSU yang sudah bekerja sejak 26 Juli lalu juga merekomendasikan lima rumusan kebijakan lainnya kepada Bupati HSU untuk diintegrasikan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2013-2017. C


: Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026