Martapura (Antaranews Kalsel) - Bupati Banjar, Kalimantan Selatan, Khalilurahman melanjutkan program penghapusan tempat buang air besar umum atau jamban terapung yang banyak terdapat di sepanjang Sungai Martapura.
"Program penghapusan jamban apung kami lanjutkan tahun ini dan ditargetkan sebanyak 270 jamban," ujar bupati saat memimpin pembongkaran jamban apung perdana di Sungai Martapura, Selasa.
Pembongkaran perdana dilakukan bupati yang didampingi anggota Forum Komunikasi Pimpinan Daerah Banjar di Desa Pekauman dan Kampung Melayu yang terdapat sejumlah jamban apung.
Bupati mengatakan, pembongkaran 270 jamban yang ditargetkan terwujud 2018 merupakan bagian dari target penghapusan jamban apung selama lima tahun sebanyak 1.000 jamban.
Dijelaskan, penghapusan tempat buang air besar umum di sepanjang sisi Sungai Martapura merupakan visi-misi yang siap dijalankan selama lima tahun memimpin Kabupaten Banjar.
"Target kami selama lima tahun bisa menghapuskan 1.000 jamban apung sehingga Sungai Martapura terbebas dari potensi penyakit akibat limbah manusia atau tinja," ungkapnya.
Menurut dia, pihaknya optimistis target penghapusan jamban apung itu mampu terealisasi karena pelaksanaan dilakukan bertahap sejak 2016 sebanyak 32 jamban berhasil dibongkar.
Sepanjang 2017 berhasil membongkar 323 jamban apung, disusul 270 jamban pada 2018, kemudian 434 buah jamban tahun 2019 dan 2020 ditarget mampu menghapus 304 jamban.
"Kami optimistis target menghapus 1.000 jamban apung terealisasi. Namun mengharapkan dukungan masyarakat yang bersedia jambannya dibongkar dari badan sungai," ucapnya.
Dikatakan, penghapusan jamban apung untuk mengembalikan kualitas air Sungai Martapura yang tercemar bakteri ecoli karena limbah manusia atau tinja memenuhi seisi sungai tersebut.
"Kami berupaya mengembalikan kualitas air sungai dan ekosistem yang hidup didalamnya sehingga keberadaan sungai sebagai sumber air kehidupan kembali normal," kata dia.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Banjar Mokhamad Hilman mengatakan, jamban apung yang dibongkar diganti WC individual yang dibangun permanen di setiap rumah.
"Pembangunan WC individual setiap rumah penduduk dibantu melalui dana desa tetapi hanya septic tank saja dan bagian lainnya diserahkan ke pemilik rumah," katanya.
