Istanbul (ANTARA) - China melarang empat anggota parlemen Selandia Baru memasuki wilayahnya setelah mereka mengunjungi Taiwan, Radio New Zealand melaporkan, Kamis (4/6).

Larangan tersebut berlaku untuk China daratan, Hong Kong, dan Makau, menyusul partisipasi mereka dalam delegasi lintas partai yang berkunjung ke Taiwan selama lima hari pada Mei lalu.

Panitera Parlemen Selandia Baru memberi tahu Maureen Pugh dari Partai Nasional, Duncan Webb dari Partai Buruh, Laura McClure dari ACT, dan David Wilson dari NZ First bahwa otoritas China menjatuhkan larangan masuk selama satu tahun.

Menurut laporan itu, Kedutaan Besar China menyatakan sanksi tersebut dapat dikurangi atau dicabut jika para anggota parlemen menyampaikan permintaan maaf.

Namun, Kementerian Luar Negeri Selandia Baru menegaskan negaranya akan tetap melanjutkan "pertukaran perdagangan, ekonomi, budaya, dan masyarakat adat" dengan Taiwan demi kepentingan warga Selandia Baru.

Kementerian itu juga menegaskan bahwa keempat anggota parlemen tersebut tidak mewakili pemerintah saat melakukan kunjungan ke Taiwan.

Menteri Luar Negeri Selandia Baru Winston Peters telah menginstruksikan para pejabat untuk mengangkat isu tersebut dalam pembicaraan dengan pihak China serta menyampaikan keprihatinan atas larangan perjalanan yang diberlakukan.

"Dalam konteks hubungan panjang tersebut, menteri terkejut ketika mengetahui China telah mengambil keputusan untuk, pertama kalinya, memberlakukan larangan perjalanan terhadap anggota parlemen Selandia Baru sebagai akibat dari kunjungan ke Taiwan," kata juru bicara Peters dalam sebuah pernyataan.

Ia menambahkan bahwa selama lebih dari setengah abad, Selandia Baru mempertahankan kebijakan Satu China.

"Anggota parlemen Selandia Baru telah mengunjungi Taiwan selama beberapa dekade dan kunjungan semacam itu tidak bertentangan dengan kebijakan Satu China Selandia Baru," kata juru bicara itu.

Sumber: Anadolu



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: China larang empat anggota parlemen Selandia Baru masuki wilayahnya

Pewarta: Yoanita Hastryka Djohan
Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026