Pesantren tidak hanya mencetak generasi berilmu, tetapi juga generasi yang mandiri. Apa yang kami mulai hari ini semoga terus tumbuh dan memberi manfaat yang lebih luas,”

Tanjung (ANTARA) -  Air kolam bergetar pelan saat jaring mulai ditarik pada Sabtu (2/5) pagi di Pondok Pesantren Karya Pembangunan   Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah.

Dalam hitungan detik, permukaan yang semula tenang berubah riuh.

Ikan-ikan patin berkilau di bawah cahaya pagi, memantulkan semangat para santri yang bersorak di tepian.

 Bagi mereka, momen ini bukan sekadar panen, melainkan buah dari kesabaran yang dipelihara berbulan-bulan.

Panen perdana tersebut menghasilkan 203 kilogram ikan patin dari tiga kolam bioflok, dengan bobot rata-rata 0,8 kilogram per ekor.

 Capaian ini menjadi bagian awal dari pengelolaan 15 kolam bioflok yang dikembangkan melalui program Pesantren Pangan Mandiri oleh PT Maruwai Coal, anak usaha PT AlamTri Minerals Indonesia Tbk.

Namun, yang dipanen hari itu bukan hanya ikan.

Di balik riak air kolam, tersimpan sebuah sistem yang dirancang untuk keberlanjutan.

 Melalui pola tebar dan panen bergiliran, produksi ikan diatur agar berlangsung terus-menerus.

 Dengan cara ini, kebutuhan protein hewani para santri dapat terpenuhi secara rutin, tanpa ketergantungan pada pasokan dari luar.

Seiring waktu, kolam bioflok tak lagi sekadar tempat budidaya. Ia menjelma menjadi bagian dari ekosistem pesantren, ruang belajar, laboratorium kehidupan, sekaligus fondasi kemandirian.

 Para santri tidak hanya mengenal teori, tetapi juga praktik mengelola sumber daya secara langsung.

Pendekatan yang dilakukan PT Maruwai Coal pun tidak berhenti pada penyediaan sarana. 

Pendampingan menyeluruh diberikan, mulai dari pelatihan teknis, manajemen pakan, pengelolaan kualitas air, hingga penguatan kelembagaan. 

Upaya ini bertujuan agar pesantren mampu mengelola usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Baca juga: AlamTri dan Adaro Group raih tiga penghargaan Global CSR & ESG Awards 2026

Community Development Dept Head PT Maruwai Coal, Sri Armiyati Jarkasi, menegaskan bahwa panen ini merupakan bagian dari tujuan yang lebih besar.

“Bagi kami, ini bukan sekadar panen ikan namun cara  pesantren mulai membangun kemandiriannya sendiri. Kami ingin santri memiliki keterampilan hidup, mengelola pangan, memahami usaha dan menciptakan nilai dari  yang mereka miliki,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Pondok Pesantren Karya Pembangunan, H Marzuki Rahman.

 Ia menyebut program ini sebagai langkah awal perubahan nyata di lingkungan pesantren.

“Pesantren tidak hanya mencetak generasi berilmu, tetapi juga generasi yang mandiri. Apa yang kami mulai hari ini semoga terus tumbuh dan memberi manfaat yang lebih luas,” katanya.

Ketika jaring diangkat dan kolam kembali tenang, riak kecil masih tertinggal di permukaan air. 

Dari tiga kolam pertama itu, sebuah awal telah ditebar—menuju sistem yang lebih besar, di mana kemandirian tumbuh perlahan, dirawat setiap hari, dan dipanen pada waktunya.



Pewarta: Herlina Lasmianti
Editor : Firman

COPYRIGHT © ANTARA 2026