Jakarta (ANTARA) - Senior Analyst NEXT Indonesia Center Sandy Pramuji menyatakan, pemerintah perlu memastikan pertumbuhan pendapatan riil yang lebih merata dan penciptaan lapangan kerja berkualitas untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional.
Ia menuturkan, saat ini tantangan utama dalam meningkatkan daya beli masyarakat Indonesia bukan lagi karena ketiadaan konsumsi, tapi pendapatan yang tidak merata dan sulitnya mencari lapangan pekerjaan.
“Tanpa penguatan (kedua) fondasi tersebut, masyarakat akan semakin berhati-hati dalam berbelanja, yang berpotensi membatasi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi ke depannya,” ujar Sandy Pramuji di Jakarta, Minggu.
Ia mengatakan, daya beli masyarakat memang masih tumbuh dan terjaga, tapi keinginan untuk berbelanja justru semakin tertahan akibat meningkatnya tekanan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, hingga kehati-hatian pascapandemi.
Baca juga: Prabowo dorong industrialisasi untuk buka lapangan kerja
Ia menyatakan, masyarakat menahan konsumsi bukan karena tidak punya uang, tapi karena memprioritaskan keamanan finansial untuk mengantisipasi kondisi perekonomian di masa mendatang.
Sandy menjelaskan, kondisi tersebut tercermin pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap stabil dan konsisten di kisaran 4,53 persen hingga 5,22 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 2023-2024, serta bertahan pada level 4,98 persen pada 2025.
Angka tersebut mengindikasikan bahwa ekonomi domestik belum melemah dan permintaan domestik masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Namun, upah riil pekerja mulai tertekan pada paruh kedua tahun lalu. Data pada Agustus 2025 menunjukkan kenaikan upah hanya sebesar 1,94 persen yoy, lebih rendah dibandingkan laju inflasi yang mencapai 2,31 persen yoy.
Baca juga: Kapolda Kalsel agendakan kerja bakti rutin untuk aksi bersih-bersih
“Kondisi ini menyebabkan upah riil terkontraksi sekitar 0,37 persen, sebuah sinyal tertekannya daya beli, karena pendapatan tidak lagi mampu mengimbangi kenaikan harga,” tutur Sandy.
Penurunan gairah ekonomi tersebut juga terlihat dari Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) yang menurun dari 120,2 pada Juni 2025 menjadi 112,9 pada September 2025, sebelum pulih terbatas di akhir tahun kembali ke level 120,2 pada Desember 2025.
Ia menyampaikan, hal tersebut mengindikasikan bahwa penghasilan yang dirasakan rumah tangga mulai tergerus oleh kenaikan biaya hidup.
Sementara dari aspek ketenagakerjaan, serapan tenaga kerja pada Agustus 2025 hanya bertambah 1,89 juta orang, jauh lebih rendah dibanding peningkatan pada Agustus 2024 sebesar 4,79 juta orang.
Baca juga: Ekonom: Penciptaan lapangan kerja berkualitas harus jadi prioritas
Sandy juga menyoroti kondisi keuangan rumah tangga yang semakin tersegmentasi dan tidak merata, terutama terkait tabungan.
Tabungan masyarakat secara total memang tumbuh hingga 12,1 persen yoy pada November 2025, tapi kenaikan tersebut didominasi oleh kelompok simpanan besar dengan saldo di atas Rp1 miliar.
Sebaliknya, kapasitas menabung kelompok menengah dan bawah justru mengalami stagnasi. Rata-rata tabungan per rekening untuk kelompok simpanan di bawah Rp100 juta cenderung menurun, dari sekitar Rp2 juta pada awal 2023 menjadi sekitar Rp1,7 juta pada 2024-2025.
“Fenomena precautionary saving ini mempertegas bahwa ruang finansial rumah tangga tidak membaik secara merata. Kelompok berpendapatan tinggi lebih memilih menabung dan berinvestasi, sementara kelompok menengah-bawah berjuang menjaga sisa bantalan keuangan mereka yang mulai tergerus inflasi,” imbuh Sandy.
Baca juga: Ini lapangan usaha yang serap tenaga kerja terbanyak di Jakarta
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Ekonom: Perlu lapangan kerja berkualitas jaga keberlanjutan ekonomi
