Tanah Bumbu Kalsel (ANTARA) - Wakil Ketua DPRD Kalimantan Selatan (Kalse) H Muhammad Alpiya Rahman mengharapkan Sekolah Luar Biasa atau SLB hadir di tengah masyarakat untuk anak berkebutuhan khusus.
"SLB itu dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, buka saja orang yang normal, tapi bagi yang berkebutuhan khusus juga perlu," ujar Alpiya saat dikonfirmasi, Senin, usai Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan atau sosper di Satui (sekitar 200 km tenggara Banjarmasin), Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu).
Dalam Sosper di "Bumi Bersujud Tanbu" tersebut, Alpiya menyosialisasikan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Pendidikan di Kalsel, yang kini berpenduduk hampir lima juta jiwa tersebar pada 13 kabupaten/kota.
Wakil rakyat asal dapil Kalsel VI/Kabupaten Kotabaru dan Tanbu itu menegaskan pentingnya pemerataan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus agar mereka memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan mencapai potensi terbaik.
Baca juga: Siswi SLB di HSS wakili Indonesia bidang tata boga di kancah Internasional
"Sebagai contoh di Kecamatan Satui cukup banyak anak berkebutuhan khusus, sehingga perlu SLB," ujar mantan anggota DPRD Tanbu dari Partai Gerindra tersebut.
Pada kesempatan sosper tersebut, Alpiya menyampaikan sejumlah strategi yang dapat dilakukan antara lain penerapan pendidikan inklusif, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, pelatihan guru agar terampil dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus, serta pengembangan kurikulum yang fleksibel.
Selain itu, menurut dia, dukungan orang tua juga sangat penting. “Orang tua perlu mendapatkan pembekalan untuk mendukung anak-anak mereka, termasuk melalui kerja sama dengan lembaga terkait dan pemanfaatan teknologi pembelajaran yang ramah anak berkebutuhan khusus,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberadaan SLB di Satui bagi masyarakatnya sangat diharapkan sebagai wadah khusus bagi anak mereka yang berkebutuhan khusus atau disabilitas.

“Kita berupaya agar SLB bisa hadir di tengah masyarakat Satui, sehingga anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat memperoleh layanan pendidikan yang layak dan setara,” tegasnya.
Berdasarkan data yang dihimpun Alpiya, di Kecamatan Satui terdapat lebih kurang 300-an orang anak berkebutuhan khusus yang perlu mendapat perhatian dan ditampung dalam lembaga pendidikan yang sesuai.
Salah seorang anggota Relawan Peduli Kemanusiaan Satui (RPKS) mengungkapkan rasa bangganya apabila di kecamatan tersebut nanti benar-benar akan dibangun SLB.
“Kami sangat mendukung, karena keberadaan SLB akan membantu anak-anak berkebutuhan khusus mengembangkan potensi mereka secara optimal serta mencapai kemandirian dan kualitas hidup yang lebih baik,” ujarnya.
Baca juga: ULM ubah paradigma masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus
Baca juga: Dosen ULM latih guru dan orang tua di Banjarbaru identifikasi ABK
