Tabalong Kalsel (ANTARA) - Anggota Komisi II Bidang Ekonomi dan Keuangan DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) Firman Yusi mengharapkan agar pemerintah secara riil mendorong pembelian dan pemanfaatan produk rakyat.
"Kita harapkan pemerintah yang mendorong melalui penetapan dalam peraturan tentang harga satuan, saya kira tidak masalah kalau produk rakyat lebih mahal," ujar Firman Yusi ketika dikonfirmasi, Jum'at.
Harapan Sekretaris Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPRD Kalsel itu terkait pemanfaatan polybag "purun" (sejenis mandong, tanaman basah/rawa) sebagai pengganti polybag plastik yang berdampak pada pencemaran lingkungan.
Baca juga: Bupati H Bahrul Ilmi harapkan keseriusan masyarakat mengelola bantuan sarana budidaya ikan
"Sebagai contoh dalam program penghijauan, pemerintah dorong harga satuan. Kalau produk rakyat seperti polybag purun lebih mahal daripada polybag plastik, saya kira tidak masalah, kan pakai duit rakyat juga," lanjut Firman menjawab Antara Kalsel.
Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin tersebut, kini sedang sosialisasi penggunaan polybag purun dalam kegiatan penghijauan seperti penyediaan bibit atau pohon anakan.
Pasalnya, menurut wakil rakyat asal daerah pemilihan Kalsel V/Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Balangan dan Kabupaten Tabalong itu, penggunaan polybag purun mendatangkan keuntungan ganda yaitu terkait ekosistem (lingkungan) dan ekonomis.
Selain itu, bisa menumbuhkembangkan usaha rakyat atau ekonomi kerakyatan melalui usaha mikro kecil menengah (UMKM), lanjut wakil rakyat kelahiran "kota minyak" Tanjung (237 km utara Banjarmasin) ibukota Tabalong atau kabupaten paling utara Kalsel yang berbatasan Kalimantan Timur (Kaltim) tempat Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dalam sosialisasi polybag purun, sebagai tahap awal, Firman Yusi menyerahkan 150 barang tersebut kepada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) "KOPI BASAMUT " Bumi Saraba Kawa " Tabalong.
Komunitas KOPI BASAMUT aktif melakukan pembibitan dan menanam pohon di pinggiran sungai terutama di Bumi Saraba Kawa Tabalong yang juga berbatasan dengan Kalimantan Tengah (Kalteng).
Selama ini bibit/pembibitan dalam kegiatan penghijauan selalu menggunakan bahan plastik sehingga menimbulkan sampah plastik atau cemaran plastik ke tanah. "KOPI BASAMUT saya minta melakukan uji coba menggunakan dan untuk itu saya serahkan polybag berbahan purun dengan berbagai ukuran," ungkapnya.
Baca juga: Bupati H Bahrul Ilmi sebut capaian sanitasi layak di Batola capai 71,05 persen
"Jika ternyata polybag berbahan purun dapat menggantikan polybag plastik, maka setidaknya penggunaannya akan menguntungkan secara ekologis (ramah lingkungan) dan menguntungkan secara ekonomis (melibatkan pengrajin lokal)," demikian Firman Yusi.
