Selasa, 24 Oktober 2017

Adaro Cetak Santri Jadi Wira Usaha Muda

id Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, PT Adaro, CSR, Adaro, BLHK, Kementerian Lingkungan Hidup, Ekonomi, UMKM
Adaro Cetak  Santri Jadi Wira Usaha Muda
Program Adaro Santri Sejahtera (PASS) (Antaranews Kalsel/Roly Supriadi)
Di kebun orangtua saya, ada beberapa pohon pisang. Saya coba meyakinkan orangtua untuk membuat keripik,
Balangan, (Antaranews Kalsel) - PT Adaro Indonesia Kalimantan Selatan berupaya mencetak santri-santi di Kabupaten Balangan, untuk menjadi wirra usaha muda, sehingga nantinya diharapkan  mampu menjadi penggerak pembangunan  daerah.

Kegiatan untuk mengasah kemampuan santri dalam berwira usaha tersebut dilakukan dalam Program Adaro Santri Sejahtera (PASS).

Para santri Pondok Pesantren Nurul Muhibbin Balangan ditantang untuk menunjukkan kreativitas dan inovasi bisnis dalam kegiatan Lomba Bisnis Antar Santri di Aula Pondok Pesantren Nurul Muhibbin, Paringin, Balangan, Kalsel, belum lama tadi.
 
Kegiatan yang merupakan penutup dari Program Adaro Santri Sejahtera (PASS) ini, bertujuan untuk mengasah keterampilan santri dalam mengungkapkan gagasan serta perencanaan bisnis.

Setelah diberikan pelatihan intensif tentang kewirausahaan, kali ini masing-masing santri diminta untuk mempresentasikan rencana bisnis yang akan mereka lakukan.
 
Rencana tersebut, dilakukan mulai dari jenis usaha yang akan dikembangkan, gambaran besaran modal, model pemasaran yang akan disasar, target konsumen, mitra bisnis, hingga perkiraan keuntungan yang akan didapat.

Model bisnis dikerucutkan ke dalam empat bidang, yaitu hidroponik, perikanan, keripik, dan kain sasirangan.
 
Dari masing-masing bidang, dipilih dua model bisnis terbaik. Masing-masing akan mendapatkan bantuan modal usaha sebesar Rp10 juta untuk juara pertama dan Rp 7,5 juta untuk juara kedua. Tim penilai terdiri dari PT Adaro Indonesia, pemilik UMKM, serta praktisi bisnis di Balangan.
 
Fadil, santri asal Pantai Hambawang, Hulu Sungai Tengah, mempresentasikan rencana bisnis pembuatan keripik pisang.

Menurut dia,  ia sudah mulai menjalankan bisnis keripik ini dalam 1 bulan terakhir bersama keluarganya. Keberaniannya memulai bisnis diakuinya didorong dari ilmu yang ia dapat dalam PASS.
 
"Di kebun orangtua saya, ada beberapa pohon pisang. Saya coba meyakinkan orangtua untuk membuat keripik," ujarnya.
 
Akhirnya, ia berhasil membujuk keluarganya untuk memulai bisnis. Ia dan keluarganya kini telah memiliki produk keripik pisang bermerek "Si Payu".

Ibunya yang membuat keripik, kakaknya yang memasarkan. Produk keripiknya diakuinya cukup diminati oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya.
 
Sementara itu, Muhammad Zaki, santri asal Bangka Belitung, selama pelaksanaan PASS fokus mempelajari teknik bisnis budidaya tanaman melalui sistem hidroponik. Hari itu pun, ia mempresentasikan rencana bisnisnya untuk menjual tanaman segar organik kepada masyarakat.
 
Dengan rinci, ia menyampaikan sumber pemasukan, target pembeli, serta mitra bisnis yang akan ia gaet dalam menjual sayuran.

Menurut Zaki, meski tidak menang dalam lomba bisnis ini pun, ia telah mengantongi banyak ilmu tentang bisnis yang akan ia terapkan di kampung halamannya kelak.
 
Menurut Saiful Arif, pengurus Lembaga Inkubator Bisnis (Link B) Balangan yang menjadi salah satu tim penilai, secara garis besar presentasi bisnis yang dipresentasikan oleh para santri sudah bagus.

Ia berharap, kelak para santri bisa menuangkan gagasan-gagasan tersebut ke dalam usaha yang nyata, sehingga tercipta lapangan pekerjaan dan mendorong geliat ekonomi, khususnya di Balangan.

Editor: Roly Supriadi

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga