Saat inilah terjadi dilema. Dilema itu akan kita songsong bersama sama. Saya yakin, teman-teman pers atau media sudah mulai didekati oleh para calon kepala daerah,Banjarmasin (ANTARA) - Awalnya media adalah institusi sosial, idealisme, dan perjuangan, namun seiring dengan perkembangan waktu, institusi pers tergesar oleh arus transformasi menjadi institusi korporasi bisnis.
"Tentunya membutuhkan penanganan yang profesional, membutuhkan sumber daya manusia yang unggul dan biaya yang tinggi. Pada saat itulah terjadi dilema," kata Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo Widodo Muktiyo, di Banjarmasin, Jumat.
Widodo menjalaskan, akan ada 270 pilkada yang diadakan di 9 provinsi, 244 kabupaten, dan 17 kota. Hari Pers tahun ini sangat penting, bagaimana kita mendudukkan diri sebagai insan pers.
"Saat inilah terjadi dilema. Dilema itu akan kita songsong bersama sama. Saya yakin, teman-teman pers atau media sudah mulai didekati oleh para calon kepala daerah," ujarnya.
Entah sebagai tim komunikasi, tim sukses, atau bahkan tim yang membuatkan visi misi calon. Di sinilah tantangan kualitas media, tantangan yang seakan-akan memecah tubuh kita, satu sisi independen, objektif. Tapi pada sisi lain berada di dalam lingkungan yang harus menyukseskan salah satu calon, ini sesuatu pragmatis, yang akan ketemu dengan idealis.
Satu pers perjuangan, satu pers korporasi, dan inilah yang akan kita bicarakan dengan tokoh tokoh pers, ujar Widodo dalam seminar Hari Pers Nasional (HPN) bertajuk "Media berkualitas untuk Pilkada Damai".
Ketua Dewan Pembina PWI Kalimantan Selatan Fathurrahman mengungkapkan, pers di Kalimantan Selatan, khususnya di Banjarmasin, pernah mengalami trauma, ketika terjadi insiden "Jumat kelabu" menjelang pemilihan umum.
"Kejadian 1997 itu membuat kami trauma," terangnya.
Pewarta: Imam HanafiEditor : Mahdani
COPYRIGHT © ANTARA 2026