Perusahaan pertambangan bijih besih PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO) membayar ganti tanam tumbuh dan ganti rugi lahan kepada warga Desa Sungai Bali dan Rampa, Kecamatan Pulau Sebuku, Kotabaru, Kalimantan Selatan sekitar Rp2,79 miliar.
Kepala Teknik Tambang PT Sebuku Iron Lateritic Ores, Ir Darmaji MT, di Kotabaru, Senin mengatakan, ganti tanam tumbuh dan ganti rugi lahan tersebut diberikan sebagai komitmen PT Silo atas lahan dan perkebunan warga yang terkena dampak jebolnya tanggul pengelolaan limba bijih besi.
Ganti rugi dan ganti tanam tumbuh tersebut diberikan kepada 52 orang warga Desa Sungai Bali dan Rampa.
"Masih ada dua warga yang belum tuntas menerima ganti rugi karena harga pohon durian yang diminta mencapai Rp10 juta perpohon," terangnya.
Permintaan warga tersebut tidak mungkin dikabulkan perusahaan karena diluar batas kewajaran.
Sementara warga yang memiliki lahan dan kebun kelapa, kelapa sawit, karet, lada, rambutan dan buah-buahan yang lainnya telah menerima dengan harga yang disepakati.
Selain membayar ganti tanam tumbu dan ganti rugi, perusahaan juga telah memberikan 206 paket sembako dengan nilai Rp342.000/paket kepada warga selama enam minggu.
Pemberian kompensasi kepada 166 nelayan untuk perawatan dan pemeliharaan kapal sebesar Rp500.000 pernelayan.
"Perusahaan juga memberikan kompensasi kepada penoreh/penyadap getah karet yang hasil panenya hilang terbawa arus saat jebolnya tanggul serta memberikan kompensasi kepada nelayan khusus ikan cumi-cumi yang terkena imbas akibat lumpur,"ujar Darmaji.
Kepala Badan Lingkungan Hidup Daerah Kotabaru, Ir Muhlis Hamidi menjelaskan, PT Silo telah merehabilitasi lingkungan akibat jebolnya tanggul pengelolaan limbah bijih besi.
Warga yang terkena dampak dari peristiwa tersebut juga telah menerima konpensasi dari jebolnya tanggul PT Silo awal 2010 lalu yang merusak tanaman dan lahan warga.
Muhlis mengaku saat ini pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium terhadap pemeriksaan air sumur warga, air sungai dan air laut.
Terkait permintaan warga tentang harga pohon durian Rp10 juta perpohon masih dikonsultasikan dengan tim kabupaten.
"Jika masalah ini ditangani tim mungkin harganya jauh lebih murah dan warga mungkin malah tidak mau menerima," kata dia.
