Pemungutan suara ulang (PSU) Pemilihan Kepala Daerah Kalimantan Selatan (Pilkada Kalsel) telah berlangsung pada Rabu, 9 Juni 2021 dengan lancar, aman dan damai.

Pemilihan suara ulang (PSU) di 827 tempat pemungutan suara (TPS) merupakan amanat putusan Mahkamah Konstitusi dalam sidang sengketa Pemilihan Gubernur Kalimantan Selatan (Pilgub Kalsel) 2020 lalu.

Dua kandidat yaitu pasangan calon 01 Sahbirin Noor-Muhidin sebagai petahana ditantang pasangan calon 02 Denny Indrayana-Difriadi Darjat untuk memperebutkan suara 266.757 orang yang masuk daftar pemilih tetap (DPT) di 827 tempat pemungutan suara (TPS) di tujuh kecamatan pada satu kota dan dua kabupaten.

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalsel, jumlah DPT tersebut belum termasuk Daftar Pemilih Pindahan (DPPh) dan Daftar Pemilih Tambahan (DPTb). Untuk DPPh jumlah yang memiliki hak pilih 286 orang, sedangkan DPTb 3.461 pemilih.

Untuk Kota Banjarmasin menggelar PSU Pilgub Kalsel di 301 TPS di Kecamatan Banjarmasin Selatan. Sedangkan lima kecamatan di Kabupaten Banjar, yakni Kecamatan Sambung Makmur, Kecamatan Aluh-Aluh, Kecamatan Martapura, Kecamatan Mataraman dan Kecamatan Astambul ada 502 TPS. Kemudian 24 TPS di Kecamatan Binuang, Kabupaten Tapin.

Sejak hakim MK mengetuk palu untuk perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Pilgub Kalsel pada 19 Maret 2021, tensi politik di Bumi Lambung Mangkurat terasa semakin memanas.

Perang opini secara terbuka pun tak terhindarkan. Meski tak ada lagi masa kampanye, namun nyatanya aksi saling klaim dukungan hingga "menyerang" kubu lawan jadi senjata menarik simpati pemilik hak suara terutama di wilayah PSU.

Menurut pengamat politik dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof Dr H Budi Suryadi, kondisi panas menuju PSU nyatanya tak menyulut pertikaian yang berarti apalagi sampai aksi anarkis di lapangan. Semuanya bisa diredam dalam suasana sejuk nan damai. Sungguh kondisi yang patut disyukuri bersama.

Kedua kubu pendukung paslon pun ternyata dapat menahan diri dan tetap mengedepankan nilai-nilai demokrasi berdasarkan semangat persatuan.

Menurut dia, tidak pernah dalam sejarah, gesekan setajam ini sebelumnya, namun PSU Kalsel tetap bisa mempertahankan contoh teladan sebagai daerah yang kondusif setiap gelaran pemilu termasuk pilkada.

Hal ini menunjukan masyarakat Kalsel telah dewasa dalam berpolitik. Damainya setiap gelaran pesta demokrasi jadi bukti rakyat dengan suka cita menyalurkan hak suaranya sesuai hati nurani.

Jika pun kandidat yang dipilihnya kemudian hasilnya kalah, maka tak ada protes apalagi aksi anarkis. Semua bisa menerima hasil pemilu dan mendukung siapa pun pemenangnya untuk memimpin.

Masyarakat Kalsel punya karakter legowo dan tidak ambil pusing. Siapa pun pemimpinnya, yang penting daerah aman dan damai serta usaha atau bekerja lancar. Jika kebutuhan dasar terpenuhi, maka cukuplah sudah bagi rakyat, kata Budi.
 

Anggota Polda Kalsel Brigadir Eddy Purwanto sejenak beristirahat usai mengawal distribusi logistik PSU Pilgub Kalsel. (ANTARA/Firman)


Kerja keras pihak penyelenggara dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dibantu unsur keamanan dari Polda Kalsel dan Polres jajaran serta siaganya TNI mem-backup di bawah komando Korem 101/Antasari patut pula diapresiasi.

Budi meyakini KPU dan Bawaslu beserta seluruh perangkatnya hingga tingkat paling bawah yaitu petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) serta pantia pengawas ad hoc (sementara) telah bekerja profesional sesuai tugas yang diemban.

Begitu pula aparat keamanan TNI-Polri, siap siaga 1x24 mengawal seluruh tahapan PSU mulai distribusi logistik, pengamanan TPS di hari pencoblosan hingga setelah pemungutan suara selesai dan logistik pilkada kembali ke kecamatan dan seterusnya secara berjenjang.

Meredam semua potensi gejolak

Kapolda Kalimantan Selatan Irjen Pol Rikwanto menjadi orang yang paling bertanggung jawab dalam menjamin keamanan PSU Pilgub Kalsel. Karena di pundaknyalah, beban menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat dipikul.

Selama seminggu menuju gelaran PSU, aparat terus memantau situasi keamanan. Bahkan dalam dua hari sebelum pencoblosan, patroli skala besar dikerahkan menyasar wilayah PSU.

Rikwanto memerintahkan personelnya melakukan patroli dialogis ke warga, menanyakan apa yang diharapkan masyarakat dan apa pula yang dikhawatirkan, sehingga semuanya harus sudah clear (jelas) saat memasuki hari pemungutan suara.



Begitu pula pihak Bawaslu, ungkap Kapolda, semua laporan terkait dugaan tindak pidana pemilu telah diselesaikan sebelum PSU sehingga tak ada lagi beban kasus yang mengganggu fokus pengawasan di hari pencoblosan.

Aksi siap siaga Polda Kalsel dibantu TNI itupun terbukti mampu meredam semua potensi terjadinya gejolak. Bahkan di saat hari pencoblosan, semuanya dapat berjalan aman terkendali. Begitu juga setelah proses penghitungan suara hingga hasilnya dibawa ke kecamatan kemudian ke kabupaten dan provinsi.

Dalam mengamankan PSU, 2.628 personel gabungan TNI-Polri dikerahkan. Pasukan cadangan dari Satuan Brimob Polda Kalsel dan Batalyon Infanteri 623/Bhakti Wira Utama atau Yonif 623/BWU juga siap tempur apabila terjadi perkembangan situasi di lapangan pasukan siap untuk digerakkan.


Bahkan Kapolda menyatakan semua TPS dianggap rawan sehingga ada yang dijaga dua personel Polri guna memberikan rasa aman bagi pihak penyelenggara dan juga masyarakat saat menyalurkan hak suaranya. Selain itu, tentunya memastikan protokol kesehatan dilaksanakan dalam hajatan tersebut.

Dalam tugas pengamanan PSU Pilgub, anggota Polda Kalsel dan Polres jajaran yang BKO bekerja penuh 1x24 selama tiga hari terhitung Selasa (8/6) hingga Kamis (10/6). Pergeseran pasukan pun dimulai sejak Senin (7/7) sebagai adaptasi bagi personel menjaga wilayah PSU.

Bripka Bobby Rahman misalnya, anggota Satuan Sabhara Polres Banjarbaru ini bertugas di TPS 02 Desa Podok, Kecamatan Aluh-Aluh, Kabupaten Banjar.

Dalam mengawal distribusi logistik PSU, Bobby harus menempuh perjalanan menggunakan perahu kecil bermesin menyusuri sungai dengan waktu sekitar satu jam untuk sampai di lokasi TPS dari Dermaga Pelabuhan Aluh-Aluh.

Untuk tempat istirahat, Bobby menginap di rumah Pak Ajak seorang anggota KPPS setempat.

Segala pengorbanan anggota Polri yang dibantu TNI itu berbuah manis dengan keberhasilan gelaran PSU yang lancar, aman dan damai serta disiplin protokol kesehatan.

Ramai cetak e-KTP

Ada fenomena menarik saat gelaran PSU Pilgub Kalsel kali ini, yaitu ramainya warga mencetak kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP).

Antrean ratusan warga pun nampak mengular memenuhi kantor Kecamatan Banjarmasin Selatan untuk mencetak e-KTP beberapa hari jelang PSU 9 Juni 2021. Bahkan pada hari pencoblosan, masih nampak terlihat adanya warga yang mencoba mengurus e-KTP dan berharap masih bisa memberikan hak suaranya sebelum batas waktu TPS ditutup.

Iman Saputra (33) misalnya, warga Kelurahan Pemurus Dalam, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin ini mengaku mengurus e-KTP karena ingin memberikan hak suaranya pada PSU.

"Saya sudah dapat undangan mencoblos tapi e-KTP hilang. Sedangkan syarat di TPS harus membawa undangan dan menunjukkan e-KTP," katanya.



Tingginya partisipasi pemilih di Kecamatan Banjarmasin Selatan diklaim Ketua DPD Partai Golkar Banjarmasin Yuni Abdi Nur Sulaiman sebagai lumbung suara keunggulan paslon 01 di PSU.

Berdasarkan penghitungan cepat tim pemenangan DPD Golkar di Banjarmasin, pasangan Sahbirin Noor-Muhidin memperoleh 46.974 suara atau 60 persen dari 107.782 Daftar Pemilih Tetap (DPT) dengan jumlah suara sah 70.724 dan tidak sah 2.700.

Partisipasi dalam PSU kali ini diperkirakan lebih tinggi dari pemungutan suara pada 9 Desember 2020 lalu, meskipun belum ada data pasti yang ditetapkan.


Ketua KPU Provinsi Kalimantan Selatan Sarmuji mengaku memang dalam pantauan pihaknya ke sejumlah TPS terjadi antusias cukup besar dari masyarakat untuk memberikan hak suaranya.

Diketahui pada pencoblosan 9 Desember 2020 lalu, tingkat partisipasi pemilih hanya mencapai 64 persen dari total DPT sebanyak 2.793.811 orang. Padahal KPU menargetkan 79 persen pemilih menyalurkan hak suaranya. Bahkan angka ini turun sekitar 2 persen dibandingkan Pilgub Kalsel 2015.

Menurut Sarmuji ada sejumlah faktor rendahnya partisipasi pemilih pada pencoblosan 9 Desember 2020 lalu. Di antaranya situasi pandemi COVID-19 mengakibatkan orang khawatir hingga cuaca yang kurang mendukung. Ada sebagian wilayah hujan lebat bahkan beberapa TPS diterjang angin kencang hingga roboh.

Sedangkan untuk PSU kali ini cuaca cerah, kata Sarmuji.

Suksesnya gelaran PSU juga diapresiasi Ketua KPU RI Ilham Saputra yang memonitor langsung ke sejumlah TPS baik di Kota Banjarmasin, Kabupaten Banjar maupun Kabupaten Tapin.

Dia mengaku bersyukur tak ada kendala berarti hingga proses pemungutan suara berjalan lancar dengan antusias masyarakat memberikan hak suaranya.

Bahkan Ilham menyatakan siap menghadapi gugatan jika ada paslon yang keberatan hasil PSU karena menurutnya KPU sudah melaksanakan sesuai ketentuan berlaku.

Pewarta: Firman

Editor : Ulul Maskuriah


COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2021