"Sebagian ada yang mati di lokasi gembalaan, sebagian di kandang," kata Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Kotabaru H Sabri Madani, di Kotabaru, Senin.
Awalnya, penyebab kematian diduga akibat penyakit jembrana, namun setelah diteliti ada juga indikasi keracunan pestisida.
"Setidaknya informasi awal ini ada tiga penyebab kematian ternak sapi tersebut," ujar Sabri.
Bisa karena keracunan pestisida, bisa karena penyakit jembrana dan bisa juga karena parasit darah.
Untuk memastikannya, Dinas Peternakan Kotabaru telah melakukan bedah bangkai sapi, untuk diambil sampel organ tubuhnya untuk pemeriksaan di laboratorium.
Sebagian warga menduga, kata Sabri, bahwa sapi itu mati karena keracunan setelah makan rumput di lokasi perkebunan PT Bersama Sejahtera Sakti (BSS).
"Pihak perusahaan PT BSS mengakui, bahwa telah melakukan penyemprotan rutin dengan tujuan untuk membersihkan kebun dari gulma dan rumput," ujarnya.
Namun pihak perusahaan juga tidak memberitahukan bahwa lokasi tersebut baru disemprot, karena hal itu sudah rutin dilakukan dan tidak terjadi apa-apa.
Menurut Sabri, untuk memastikannya penyebab kematian sapi-sapi bantuan dari Dinas Perkebunan Kotabaru itu masih menunggu hasil laboratorium.
Sementara itu, untuk mencari jalan keluar masalah tersebut pemerintah daerah memfasilitasi pertemuan antara pihak perusahaan, masyarakat peternak.
Ke depan pihak perusahaan siap memberitahukan peringatan terhadap lokasi yang disemprot agar tidak dijadikan lokasi penggembalaan.
"Bahkan pihak perusahaan juga siap membantu menyediakan lahan gembalaan khusus untuk ternak warga di sekitar perusahaan, asal masyarakat menyampaikan berapa kebutuhannya," kata warga Pajri./C
Editor : Asmuni Kadri
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.