Perajin gerabah Mantaas kini kurang lebih 50 persen bila dibandingkan dengan masa-masa lalu atau tahun 1970-an,Banjarmasin (Antaranews Kalsel) - Kegiatan membuat gerabah di Mantaas Kecamatan Labuan Amas Utara, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel) kini terancam punah.
"Perajin gerabah Mantaas kini kurang lebih 50 persen bila dibandingkan dengan masa-masa lalu atau tahun 1970-an," ujar warga setempat H Masrani (58) saat pulang menuju Barabai, ibukota HST menjawab Antara Kalsel, Rabu.
Namun ayah dari enam orang anak atau enam cucu itu tidak menyebut jumlah pasti perajin gerabah di Mantaas (sekitar 172 kilometer utara Banjarmasin) yang tertinggal, kecuali mengatakan, hal itu karena tidak ada regenerasi/pelanjut.
Sebagai contoh anak-anak muda Mantaas sekarang lebih memilih pekerja lain yang mereka anggap menjanjikan, walau mungkin bersifat instan daripada menekuni kerajinan gerabah, tutur laki-laki tua mantan peternak kerbau rawa dan kini mengeluti bisnis usaha ikan air tawar tersebut.
Selain itu, tuturnya, mungkin karena kemajuan teknologi sehingga baik secara kuantatif dan kualitas kerajian gerabah tersisihkan, demikian Masrani.
Masyarakat Mantaas termasuk perajin gerabah terkenal di Kalsel yang pangsa pasarnya bukan saja penduduk setempat melaikan pula ke luar daerah .
Produk gerabah Mantaas antara lain berupa dapur, kendi dan "kapit" (tempat membuat/mengamankan tambuni, serta beragam permainan anak-anak seperti tempat menabung anak-anak.
Oleh sebab itu, tempo dulu ada sebutan "menjual tanah" tidak pakai sigel /hitam putih (surat keterangan pembelian), bahkan tempo dulu dengan sistem barter.
Misalnya satu dapur ukuran sedang ditukarkan dengan gabah lima liter dan satu mainan anak-anak berupa celengan (tempat menabung uang) ditukar dengan dua liter gabah.
Pewarta: SukarliEditor : Hasan Zainuddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026