Rantau (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, mencatat sebanyak 18 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) ditemukan sejak 2015 dengan rentang usia penderita yang beragam, mulai dari anak-anak hingga usia produktif.

Kepala Dinas Kesehatan Tapin Noor Ifansyah mengatakan, kasus yang ditemukan selama ini mayoritas terdeteksi melalui pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan saat pasien menjalani pengobatan penyakit lain.

“Untuk periode sejak 2015 terdapat 18 kasus HIV. Usianya bervariasi, ada yang berumur empat tahun, sembilan tahun hingga usia produktif,” ujar Ifansyah di Rantau, Kabupaten Tapin, Jumat.

Baca juga: MUI beri perhatian tingginya kasus HIV-AIDS di Banjarmasin

Ia menjelaskan, sebagian besar penderita tidak datang secara khusus untuk melakukan tes HIV, melainkan diketahui setelah tenaga kesehatan melakukan pemeriksaan lanjutan karena adanya kecurigaan medis.

“Sebagian besar kasus ditemukan di sarana pelayanan kesehatan. Pasien datang karena sakit, kemudian ada kecurigaan sehingga dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya positif,” katanya.

Ifansyah menyebutkan, salah satu kasus yang menjadi perhatian terjadi pada 2018, seorang anak berusia empat tahun dinyatakan positif HIV setelah menjalani pemeriksaan akibat sakit yang dialami.

Baca juga: Dinkes Balangan Kalsel catat 42 kasus HIV/AIDS pada 2024

“Awalnya anak tersebut sakit kemudian diperiksa dan hasilnya positif. Setelah itu dilakukan pemeriksaan kepada kedua orang tuanya dan ternyata keduanya juga positif,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dari seluruh kasus yang tercatat hanya satu orang yang secara sadar datang memeriksakan diri setelah mengakui memiliki perilaku berisiko.

“Satu kasus berasal dari LSL (lelaki suka lelaki) yang secara sadar memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan,” tambahnya.

Sementara itu pada 2026, ucap Ifansyah, Dinas Kesehatan Tapin baru menemukan satu kasus baru HIV.

Baca juga: Kasus HIV/AIDS di Kalsel terus alami peningkatan

Sebagai langkah pencegahan, Dinas Kesehatan Tapin rutin melakukan skrining pada kelompok yang dinilai rentan serta di sejumlah tempat hiburan malam.

“Kami melakukan pemeriksaan bersama tim dan dibantu aparat kepolisian di beberapa tempat karaoke dengan memeriksa sejumlah pemandu lagu. Hasilnya seluruhnya negatif,” ucapnya.

Selain itu, kata dia, Dinas Kesehatan Tapin juga melakukan pendekatan kepada kelompok rentan melalui dialog dan edukasi sebelum mengadakan pemeriksaan kesehatan secara sukarela.

“Kami mengajak kelompok rentan untuk berdialog dan memberikan pemahaman, setelah itu biasanya kami fasilitasi pemeriksaan kesehatan,” ujarnya.

Namun, Ifansyah mengakui pihaknya masih menghadapi kendala dalam menjangkau kelompok LSL karena keterbatasan informasi mengenai komunitas tersebut di daerah setempat.



Pewarta: Muhammad Rastaferian Pasya
Editor : Mahdani

COPYRIGHT © ANTARA 2026