Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Provinsi Kalsel, Muhammad Muslim, mengatakan, pelatihan ini merupakan bentuk nyata komitmen pemerintah provinsi dalam mendukung program nasional penanggulangan penyakit menular dan tidak menular.
Baca juga: 35.409 bayi periksa dini penyakit jantung bawaan di Kalsel
“Penularan HIV, sifilis, dan hepatitis B dari ibu ke anak masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Ini tidak hanya mengancam kesehatan ibu dan anak, tetapi juga berdampak jangka panjang pada kualitas hidup generasi mendatang," tegas Muslim di Banjarbaru, Senin.
Karena itu, lanjut Muhammad Muslim, pencegahan penularan harus menjadi prioritas bersama.
Terkait hepatitis, Muslim menjelaskan Indonesia memiliki target eliminasi hepatitis B pada 2030 dan hepatitis C pada 2040, sehingga strategi penanggulangan triple eliminasi harus dilaksanakan secara optimal mulai dari pencegahan, surveilans, penemuan kasus, hingga penanganan kasus yang diimbangi dengan promosi kesehatan.
“Petugas pelaksana program hepatitis di FKTP adalah garda terdepan yang harus kompeten, karena mereka yang akan memastikan target eliminasi tercapai,” tambahnya.
Selain penyakit menular, perilaku merokok juga menjadi tantangan besar di Indonesia, kemudian konsumsi rokok berdampak tinggi pada kasus penyakit tidak menular (PTM) seperti PPOK, asma, penyakit jantung, stroke, dan kanker paru-paru.
Baca juga: Kasus DBD di Balangan turun drastis hingga April 2025
“Kebiasaan merokok tidak hanya membebani biaya pengobatan, tetapi juga mengurangi produktivitas masyarakat. Oleh karena itu, pengendalian konsumsi rokok serta peningkatan kompetensi SDM dalam memberikan layanan upaya berhenti merokok di fasilitas kesehatan primer sangat penting,” jelas Muslim.
Melalui pelatihan ini, Dinkes Provinsi Kalsel berharap tenaga kesehatan di kabupaten/kota dapat semakin siap dan mampu memberikan layanan kesehatan yang berkualitas, mendukung penanggulangan penyakit menular dan tidak menular, serta berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Kepala Bapelkes Kalsel, Abdul Basit, menjelaskan bahwa pelatihan ini menjadi jembatan penting untuk meningkatkan cakupan program kesehatan di masing-masing daerah.
“Arahan Bapak Plt Kepala Dinas jelas, pelatihan ini bukan hanya formalitas. Ini harus bisa memberikan daya ungkit di lapangan agar hasilnya nyata, minimal dalam tiga bulan ke depan ada peningkatan cakupan, seperti penemuan kasus HIV/AIDS, pengobatan hepatitis B, serta pencegahan penyakit tidak menular melalui upaya berhenti merokok,” ujar Abdul Basit.
Dia menekankan bahwa pelatihan ini juga diimbangi dengan penerapan perilaku hidup sehat di lingkungan Bapelkes.
“Kami tidak hanya membekali peserta dengan teori dan praktik, tetapi juga membiasakan perilaku sehat selama pelatihan. Di Bapelkes, kami sediakan fasilitas olahraga, budaya langkah sehat, hingga pola makan bergizi seimbang. Ini penting, karena banyak petugas kesehatan lupa menjaga kesehatannya sendiri padahal mereka garda terdepan pelayanan,” pungkasnya.
Baca juga: Dinkes Kalsel transformasi posyandu melalui orientasi kader
Pewarta: Imam HanafiEditor : Taufik Ridwan
COPYRIGHT © ANTARA 2026