Banjarmasin (ANTARA) - Ustadz Haji Ahmad Walad Hadrawi dalam tausyiahnya di Masjid Al Falah Komplek Bumi Pemurus Permai, Kecamatan Banjarmasin Selatan menyatakan, bahwa puasa Ramadhan untuk peningkatan kualitas diri.
"Pasalnya pada bulan Ramadhan bukan cuma penuh makna, tapi juga penuh dengan berkah, rahmah da maghfirah (keampunan Allah SWT)," ujar Ustadz Walad dalam tausyiahnya sesudah shalat Subuh Senin.
Ustadz yang pernah mondok di Darul Musthafa Tarim, Hadramaut, Yaman itu mengatakan, bahwa puasa Ramadhan tidak ternilai pahalanya. "Karena Allah menyatakan, puasa Ramadhan untuk dan Aku (Allah) yang membalaskannya," kata Ustadz Walad.
Baca juga: Ustadz Walad Hadrawi ungkap makna pikir pada keimanan dan kebenaran
Begitu juga amal ibadah pada bulan suci Ramadhan nilai pahalanya bukan cuma berlipat ganda, tapi bisa berganda-ganda, lanjut putra dari almarhum H. Hadrawi itu, seorang ulama terkenal di Kota Banjarmasin khususnya.
Sebagai contoh shalat fardhu pada bulan Ramadhan nilai pahalanya 70 kali shalat fardhu di luar Ramadhan. dan pada bulan suci tersebut ada malam qadar atau malam yang lebih baik dari 1.000 bulan.
"Banyak lagi fadilah atau kemanfaatan puasa dan peribadatan lainnya pada bulan Ramadhan bagi kaum Muslim, baik yang berkaitan fisik atau jasmani maupun rohani ataupun mental spiritual," katanya.
Oleh karenanya rugi bagi seseorang Muslim yang tidak memanfaatkan bulan suci Ramadhan dengan sebaik-baiknya dan semaksimal mungkin dalam beramal ibadah, ujar. Usradz Walad.
Baca juga: Ustadz Walad nyatakan bermula berpikir jalan nuju kebersihan hati
"Seperti halnya Shalat Tarawih, serta tadarus Al Qur'an. Karena Shalat Tarawih hanya pada Ramadhan, dan. Al Qur'an Allah turun di bulan suci Ramadhan, " lanjut ustadz muda tersebut.
Sebelumnya, Ustadz Walad melanjutkan pengajian pekan lalu terkait Kalam Hikmah Ibnu Athaillah Al Askandari, seorang ahli sufi dari Mesir pada sekitar abad XII yang antara lain membahas sikap manusia ketika menerima nikmat.
"Berdasarkan pendapat Ibnu Athaillah, bahwa sikap manusia ketika menerima nikmat ada tiga golongan di antaranya gembira atau netral. Orang yang seperti ini masih tergolong baik, karena ada saja yang cuek," kutip Ustadz Walad seraya berdo'a semoga Allah pertemukan dengan Ramadhan 1447 Hijriah yang tak berapa lama lagi.
Baca juga: Ustadz Walad dalam tausyiah ungkap rahasia dunia

