Realisasi belanja modal Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan hingga triwulan III-2011 masih minim yaitu sekitar 37,14 persen jauh lebih rendah dibanding 2010 periode sama sebesar 61,19 persen.


Pemimpin Bank Indonesia Banjarmasin Kalimantan Selatan Khairil Anwar pada pertemuan tahunan perbankan daerah Kalsel di Aula BI Banjarmasin, Rabu mengatakan, minimnya realisasi belanja modal tersebut membuat multiplier operasi fiskal terhadap perekonomian masih terbatas.

"Saya masih berharap pada triwulan IV-2011 hingga akhir Desember ini realisasi belanja modal bisa meningkat tajam sesuai dengan target pembangunan," kata Khairil dalam pidato mengawali pertemuan yang dihadiri oleh pemimpin bank di Kalsel, pemerintah provinsi dan kabupaten, akademisi, pemimpin media dan tokoh masyarakat.

Namun demikian, kata dia, secara menyeluruh membaiknya kondisi makro ekonomi nasional berpengaruh terhadap perekonomian Kalsel secara positif.

Laju pertumbuhan ekonomi Kalsel pada 2011 diperkirakan mencapai 6,02 persen naik dibandingkan pertumbuhan di tahun 2010 sebesar 5,58 persen.

Membaiknya laju pertumbuhan ekonomi Kalsel tersebut antara lain di dorong oleh masih kuatnya konsumsi masyarakat selama 2011, yang ditandai meningkatnya penjualan barang-barang konsumsi seperti kendaraan bermotor dan properti atau perumahan.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga ditopang oleh membaiknya laju ekspor Kalsel ke beberapa negara yang diperkirakan tumbuh hingga 10,62 persen.

"Perkembangan ekspor ini tidak terlepas dari masih meningkatnya permintaan pasar Asia terutama untuk komoditas andalan seperti batu bara, CPO dan karet," katanya.

Kondisi tersebut tambah dia, didukung dengan kondisi cuaca sepanjang 2011 yang relatif lebih kering dibanding 2010.

Namun demikian, masih ada hal yang harus mendapatkan perhatian pemerintah, yaitu laju pertumbuhan ekonomi Kalsel dalam dua tahun terakhir selalu di bawah rata-rata nasional, padahal tahun-tahun sebelumnya selalu diatas rata-rata nasional.

"Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk segera mencari solusi dan permasalahannya," katanya.

Terkait dampak krisis global yang terjadi saat ini, kata dia, selama kirisis tersebut tidak berpengaruh pada India dan Korea, maka perekonomian Kalsel yang ditopang oleh ekspor relatif aman.

Hal tersebut, kata dia, karena ekspor Kalsel kini tertinggi ke negara-negara Asia dan terbesar salah satunya ke India dan Korea.

"Untuk itu perlu dilakukan komunikasi intensif dengan dua negara tersebut untuk tetap menjaga stabilitas ekonomi, bukan hanya oleh pusat tetapi juga perlu peran aktif dari pemerintah provinsi dan daerah," katanya./B/C




Editor : Imam Hanafi

COPYRIGHT © ANTARA 2026