Rantau (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, mengembangkan pengelolaan sampah berbasis maggot atau larva lalat BSF sebagai salah satu strategi utama mengurangi timbunan sampah organik.
Rumah maggot yang berlokasi di Jalan Bupati H. Said Alwi, Rantau Kiwa, Kecamatan Tapin Utara, setiap hari mengolah sekitar 100 hingga 200 kilogram sampah organik yang dikumpulkan dari warung makan, rumah tangga hingga instansi vertikal.
Baca juga: DLH Tapin tindak tegas TPS liar demi persiapan Adipura 2025
“Perbandingan satu kilogram maggot bisa menghabiskan lima kilogram sampah organik. Selain ramah lingkungan, hasil maggot juga bisa digunakan untuk pakan ternak dan ikan,” kata Kepala DLH Tapin Noordin kepada ANTARA di Rantau, Kabupaten Tapin, Kamis.
Ia menambahkan, larva maggot mampu menghabiskan sampah dalam jumlah besar dengan siklus hidup 28 hingga 35 hari.
Program ini mulai dijalankan sejak Januari 2023 selain pengelolaan sampah, ucap Noordin, rumah maggot juga terbuka bagi masyarakat yang ingin belajar, dengan edukasi diberikan secara gratis.
Noordin menjelaskan inovasi pengelolaan maggot tidak hanya efektif menekan sampah organik, tetapi juga memiliki nilai edukasi dan ekonomi.
“Kami berharap masyarakat dapat meniru dan menerapkan pengelolaan berbasis maggot ini di lingkungan masing-masing,” ujarnya.
Baca juga: Pengelolaan sampah Desa Tegal Rejo Kotabaru peringkat 11 Nasional
Dia menyebutkan, rumah maggot DLH Tapin beroperasi setiap hari mulai pukul 08.00 hingga siang dan diharapkan menjadi pusat edukasi yang mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah organik.
