Camat Upau Hadi Ismanto di Tanjung, Senin mengatakan, kegiatan yang dimaksudkan untuk membersihkan kampung dari segala bencana dan roh jahat itu diperkirakan bakal menghabiskan anggaran Rp150 juta.
"Kegiatan yang akan digelar tiga hari berturut-turut itu merupakan tradisi adat Kampung Sepuluh mengingat tragedi air bah Sabtu (11/9) di Sungai Kinarum yang menewaskan tujuh orang pengunjung sehingga mengakibatkan kampung mereka tercemar," katanya.
Panitia aruh palas sudah terbentuk dan untuk melaksanakan ritual itu diperkirakan memerlukan dana sekitar Rp150 juta karena dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, jelasnya.
Pelaksanaan ritual rencananya dijadwalkan 27-29 Oktober 2010 dipimpin Ermat seorang tokoh masyakarat adat setempat.
"Dalam pelaksanaan palas ada beberapa tahapan ritual dan biasanya dilengkapi sejumlah sesaji seperti beras, gula merah, telur, ayam, kelapa serta aneka kue tradisional selain itu juga ada pemotongan sapi atau kerbau sebagai hewan kurban," kata Hadi.
Dengan dana yang cukup besar, Hadi telah mengusulkan bantuan dana ke bupati Tabalong agar ritual Palas Alam Riam Kinarum bisa dilaksanakan termasuk permohonan dana kepada pihak swasta.
"Bersama panitia aruh kita mengusulkan bantuan dana ke bupati Tabalong serta pihak swasta agar ritual aruh bisa dilaksanakan," katanya.
Sementara itu pasca tragedi air bah, Hadi membantah kalau akses ke Obyek wisata Kinarum ditutup karena banyak perkebunan dan tempat tinggal warga yang berada di sekitar Sungai Kinarum.
"Kalau akses ke Sungai Kinarum ditutup kasihan warga yang ingin berangkat ke kebun selain itu ada puluhan kepala keluarga yang menetap di sekitar Sungai Kinarum," jelas camat.
Bahkan Minggu (26/9) kemarin diakui Hadi sejumlah pengunjung masih mendatangi Sungai Kinarum meski jumlahnya tidak seramai sebelum tragedi air bah.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026