Kepala Seksi Evaluasi BP-DAS Kalsel Ramliadi di Banjarmasin Senin, mengatakan, kesimpulan tersebut berdasarkan penelitian dan kajian tim BP-DAS setelah musibah air bah yang menewaskan tujuh remaja yang sedang berwisata di sungai Kinarum pada Sabtu (11/9) siang.
"Dari evaluasi BP-DAS, objek wisata Kinarum memiliki topografi yang cukup curam yaitu titik terendah antara 50-60 m dpl dan titik tertinggi 862 m dpl," kata dia.
Dengan kecuraman kawasan tersebut, kata dia, maka pada saat bagian atas mengalami hujan yang cukup deras, air akan mudah menggelontor turun ke bawah karena sulit untuk diserap oleh pohon-pohon yang masih ada.
Selain itu, kata dia, jenis atau karakteristik tanah di sekitar wilayah tersebut adalah tanah liat dengan topsoil atau lapisan tanah bagian atas yang cukup tipis dan batu-batuan yang masih muda sehingga cepat terjadi erosi dan larut.
Dengan kondisi topografi tersebut, kata dia, kejadian air bah di Sungai Kinarum hampir tiap tahun selalu terjadi, terutama pada saat hujan lebat diatas gunung.
"Kalau pada tahun-tahun sebelumnya tidak pernah ada korban jiwa sehingga tidak mendapatkan perhatian secara luas, namun karena air bah tahun ini ada korban jiwa akhirnya menjadi masalah besar," katanya.
Apalagi, kata dia, pada saat kejadian dan sebelum kejadian, curah hujan disekitar wilayah tersebut diatas normal, yaitu antara 100-200 milimeter per jam.
"Karena satu hari sebelumnya sudah terjadi hujan yang cukup lebat, tanaman yang ada di sekitar wilayah tersebut sudah mengalami kejenuhan dan tidak lagi mampu menyerap air hujan yang turun pada saat itu," katanya.
Berdasarkan karakteristik alam di sekitar sungai tersebut, kata dia, hasil penelitian yang akan dilaporkan kepada menteri kehutanan tersebut, salah satunya merekomendasikan, agar rencana pemberian izin Sungai Kinarum menjadi kawasan wisata alam ditinjau ulang.
Sementara itu, kata Ramliadi, tutupan lahan di sekitar lokasi wisata masih cukup bagus, kalaupun ada pembukaan lahan hanya untuk ladang berpindah yang dilakukan sekitar 20 kepala keluarga saja.
Kegiatan lahan berpindah tersebut, kata dia, tidak banyak berpengaruh dan tidak berbahaya karena setelah membuka lahan, masyarakat akan kemabali melakukan penanaman.
Fungsi kawasan di Kinarum yaitu hutan lindung seluas 4.093,8 hektare dan hutan produksi seluas 690,1 hektare.
Dari total lahan tersebut, yang masuk lahan kritis seluas 312,8 hektare dan potensial kritis 4,471,1 hektare. Sedangkan penutupan lahannya, kata dia, semak belukar 89,914 hektare, alang-alang 232,496 hektare, hutan sekunder 2.958,488 hektare dan kebun campuran 1.503,025 hektare.
Panjang Sungai Kinarum sampai pada titik musibah, kata dia, 18.911,7 meter sedangkan panjang dari titik musibah ke Sungai Tabalong Kanan sepanjang 21.130 meter.
Editor : Abdul Hakim Muhiddin
COPYRIGHT © ANTARA 2026